Institusion
Universitas Sintuwu Maroso Poso
Author
Syahdyah, Dinda Halimatus
Subject
T Technology (General)
Datestamp
2024-04-01 02:40:34
Abstract :
Tugas akhir ini melibatkan sebuah eksplorasi (studi di laboratorium) yang
berjudul ?Penggunaan Bottom Ash Sebagai Pengganti Pasir Pada Campuran
Beton?. Bottom Ash memiliki kemungkinan untuk digunakan sebagai komponen
ekstra dalam proses pembuatan beton.
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi dampak dari
pemanfaatan bottom ash sebagai substitusi dalam pasir pada campuran beton.
Dalam eksperimen ini, benda uji yang digunakan memiliki bentuk kubus dengan
dimensi 150 x 150 x 150 mm. Bahan-bahan yang diterapkan meliputi pasir yang
berasal dari sungai puna, batu pecah yang diambil dari sungai puna, semen
Portland tipe 1 merek tonasa, air yang diambil dari Laboratorium Beton Fakultas
Teknik Universitas Sintuwu Maroso Poso, serta bahan tambahan abu batubara
(Bottom Ash) dengan variasi kadar 80%, 90%, dan 100%. Dari total volume
agregat halus yang digunakan, dilakukan pengambilan 6 sampel untuk setiap
variasi kadar tambahan, serta 6 sampel untuk beton normal. Akibatnya, jumlah
keseluruhan sampel yang dihasilkan adalah 24. Rancangan campuran dirujuk dari
standar SNI 03-2834-2000 dengan faktor air semen (FAS) sebesar 0,61 dan 0,6.
Pengujian dilaksanakan pada beton yang telah berumur 7 dan 28 hari.
Dari hasil uji ini terlihat bahwa penerapan bottom ash sebagai pengganti
pasir dalam campuran beton dengan kadar variasi 80% sebesar 19,99 kg/cm²
atau 12,30% (umur 7 hari), pada kadar variasi 90% 39,17 kg/cm² atau 24,11%
(umur 7 hari), dan kadar variasi 100% 27,55 kg/cm² atau 16,95% (umur 7 hari).
Kemudian pada umur 28 hari didapatkan kadar variasi 80% sebesar 38,62%
kg/cm² atau 15,45% (umur 28 hari), kadar variasi 90% sebesar 33,33 kg/cm²
atau 13,33% kg/cm² (umur 28 hari), dan kadar variasi 100% sebesar 46,48
kg/cm² atau 18,59% (umur 28 hari).
Hal ini dapat disimpulkan bahwa Pengganti Bottom Ash sebagai
komponen dalam campuran beton menyebabkan berkurangnya kemampuan
semen untuk berikat. Berat jenis abu dasar lebih ringan dari pada pasir sehingga
berat beton yang menggunakan abu dasar sebagai pengganti pasir lebih ringan
dari pada beton normal. Ketika melakukan pengujian kekuatan tekan beton, area
beton yang terkena tekanan lebih awal cenderung mengembangkan retakan
dengan cepat, yang berdampak pada penurunan yang signifikan pada kemampuan
tekan beton.