Institusion
Universitas Jenderal Soedirman
Author
Azis, Nadhira Shania Tabrizia
Subject
E389 Equality
Datestamp
2021-08-26 13:13:11
Abstract :
Penelitian ini berangkat dari ruang lingkup analisis politik kontekstual yang mengamati kelanjutan suatu hal yang tercipta dan diciptakan kembali dari sebuah keteraturan melalui perjuangan. Penelitian ini membahas kebudayaan perjuangan politik suatu kaum yang berkembang. Salah satunya adalah kelompok transgender yang mewacanakan perjuangan kesetaraan identitasnya dalam media sosial di Indonesia.
Tujuan penelitian ini: Pertama, mengetahui dan memahami kencenderungan apa saja yang menjadikan kelompok transgender mewacanakan perjuangan kesetaraan identitas dalam media sosial di Indonesia. Kedua, memahami dan mendeskripsikan bagaimana kelompok transgender mewacanakan perjuangan kesetaraan identitas dalam media sosial di Indonesia. Penelitian ini dilandasi oleh perspektif pascastrukturalis dan paradigma dekonstruksionisme, dan menggunakan metode kualitatif serta pendekatan analisis wacana. Sedangkan teknik analisis yang digunakan adalah analisis wacana kritis dari Norman Fairclough.
Hasil penelitian ini mengungkapkan media sosial menjadi alat politik yang digunakan kelompok transgender untuk mewacanakan perjuangan kesetaraan identitas. Untuk mewacanakan kepentingannya, kelompok transgender memiliki kecenderungan berupa keyakinan dan oportunitas: Purpose of life, persistent and confident, self-peaceful, self-love for struggling and embracing human?s true identity, Islam inclusivity, dan media sosial sebagai oportunitas. Dalam mewacanakan kepentingannya, kelompok transgender menggunakan pola konsep self-acceptance (penerimaan diri). Sedangkan, media sosial menjadi alat bagi kelompok transgender untuk merealisasikan kepentingannya yakni mewacanakan perjuangan kesetaraan identitas. Oleh karena itu, hasil temuan penelitian ini adalah transgender berkelompok untuk memperkuat diri dan merealisasikan kepentingan dalam media sosial serta mendapatkan dukungan internasional, sehingga mereka memiliki kekuasaan untuk eksistensi kelompok dan menggunakan pola penerimaan diri untuk menguatkan penyebaran wacana.