DETAIL DOCUMENT
Narrative Review: Tatalaksana Dispepsia di Apotek
Total View This Week0
Institusion
Universitas Jenderal Soedirman
Author
IZZATI, Reeva Rahma
Subject
M35 Management 
Datestamp
2021-09-03 00:58:03 
Abstract :
Latar Belakang: Swamedikasi di apotek merupakan salah satu kegiatan pelayanan kefarmasian untuk mengatasi penyakit minor seperti dispepsia. Kejadian dispepsia di Indonesia yang tinggi memungkinkan terjadinya ketidaksesuaian pengobatan sehingga dapat mempengaruhi biaya perawatan hingga keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk membuat review mengenai tatalaksana dispepsia yang aman efektif, dan acceptable dengan mempertimbangkan manfaat serta resiko pasien. Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain narrative review dengan memasukkan kata kunci ?management, evaluation, monitoring, adverse drug reaction, dyspepsia? pada database Pubmed, Cochrane, Google Scholar, Garuda, dan Neliti. Artikel diseleksi berdasarkan kriteria inklusi yang sesuai dengan tujuan penelitian. Artikel selanjutnya diambil kesimpulan berdasarkan persamaan dari keseluruhan artikel yang digunakan. Hasil Penelitian: Penelitian menunjukkan bahwa terdapat 76 dari 941 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Terapi dispepsia yang dapat digunakan di apotek adalah seluruh golongan antasida, omeprazol, famotidin dan ranitidin. Pasien dirujuk ke rumah sakit jika terdapat alarm symptom seperti usia >50 tahun, penurunan berat badan yang tidak diinginkan, disfagia progresif, pendarahan pada saluran cerna, riwayat keluarga kanker lambung, muntah berulang(>10 kali dalam 24 jam), serta tidak mengalami perbaikan 2 minggu setelah konsumsi obat. Kesimpulan: Penanganan pertama pada pasien dispepsia di apotek adalah pemberian obat golongan antasida, proton pump inhibitor (PPI), atau histamin-2 reseptor antagonis (H2RA) selama 2 minggu dengan mempertimbangkan gejala klinis pada pasien. Kriteria pasien yang perlu dirujuk ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut yaitu pasien dengan alarm symptom atau mengkonsumsi obat antasida, proton pump inhibitor dan histamin-2 reseptor antagonis lebih dari 2 minggu tanpa menggunakan resep dokter. 
Institution Info

Universitas Jenderal Soedirman