Abstract :
Indonesia memiliki tingkat melek huruf yang rendah. Pada tahun 2021, Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Suhajar Diantoro, dalam rapat koordinasi perpustakaan nasional menyatakan bahwa Indonesia berada di peringkat 62 dari 70 negara dengan tingkat literasi rendah atau berada di peringkat 10 terbawah. Melihat betapa rendahnya literasi di Indonesia, Pondok Pesantren Mumtaza Center mengadakan program literasi sasa sabu (satu santri satu buku) dalam menumbuhkan minat baca para santri guna mengurangi rendahnya tingkat baca Bangsa Indonesia, selain itu dengan tujuan agar santri terbiasa membaca dan mampu menyelelesaikan kewajibannya menulis buku di dalam Pondok Pesantren.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana program literasi di pesantren telah mendorong kecintaan membaca santri. Memahami dan mengamati peristiwa dan objek tentang apa yang terjadi, seperti perilaku, persepsi, motivasi, dan tindakan merupakan strategi yang digunakan dalam penelitian ini. Strategi penelitian ini memadukan metodologi studi kasus dengan penelitian deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan program literasi di Pondok Pesantren Mumtaza Center dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu tahap pelaksanaan (pembiasaan, pengembangan, pembelajaran), tahap perencanaan dan tahap evaluasi. Pada tahap pembiasaan yaitu kegiatan membaca selama 15 menit, pada tahap pengembangan yaitu praktik bahasa. Sedangkan tahap pembelajaran pemanfaatan buku pengayaan dalam pelajaran yang disertai dengan hasil karya santri.Selanjutnya tahap pelaksanan dengan acara (pembiasaan membaca, pengembangan praktik bahasa asing, dan pengajaran membaca sebelum KBM).
Untuk perencanaan diadakannya tim literasi, SDM, sarana prasarana), dan evaluasi sebagai bahan perbaikan untuk selanjutnya. Program literasi di Pondok Pesantren Mumtaza sudah berupaya membangun ekosistem yang baik melalui membaca dan menulis, namun belum melibatkan semua pihak dan belum maksimal. Sehingga perlu di adakannya workshop khusus untuk ustadz-ustadzah berkaitan dengan enam dimensi literasi, dan peningkatan kapasitas santri lebih dari sekedar baca-tulis.