Abstract :
Resiliensi bukan merupakan suatu sifat yang melekat pada diri seseorang, melainkan merupakan hasil dari suatu proses. Resiliensi merupakan suatu kapasitas sesorang untuk bertahan dalam situasi yang sedang dihadapi. Penelitian ini dilandansi oleh tingginya siswa yang resiliensi rendah berlatar belakang keluarga broken home melampiaskan dalam bentuk kenakalan remaja seperti membolos, tidak percaya diri, mencuri, kurangnya sikap menghargai seseorang dan motivasi sekolah yang rendah. Penelitian ini bertujuan mengembangkan sebuah panduan pelatihan konseling individu dengan pendekatan cognitive behavior therapy untuk meningkatkan resiliensi anak broken home SMK. Pengumpulan data digunakan adalah observasi, wawancara, skala resiliensi anak broken home yang diberikan pada subjek penelitian yaitu siswa yang berlatar belakang keluarga broken home dari kelas 10 dan 11 SMKN 1 Singgahan. Hasil dari analisis data yang diberikan ke 71 siswa memiliki nilai rata-rata keseluruhan sebesar 61,79%. Produk yang dihasilkan telah lolos uji coba ke 2 ahli BK, dan 3 praktisi yang menyatakan bahwa panduan pelatihan konseling individu dengan pendekatan cognitive behavior therapy untuk meningkatkan resiliensi anak broken home berguna dan layak dipakai untuk meningkatkan resiliensi anak broken home.