Abstract :
Kurangnya pendidikan karakter religius yang tertanam dalam diri seorang siswa dalam kehidupan sehari hari menjadi salah satu faktor tingginya dampak pergaulan yang dapat mempengaruhi sikap dan perilaku para siswa, hal ini terbukti dalam wilayah Kecamatan ngasem banyak anak-anak yang kurang bisa menjaga dirinya agar senantiasa menanamkan nilai-nilai karakter religius dalam kehidupannya, sehingga menjadi salah satu faktor banyaknya anak-anak yang terbawa dari pergaulan yang diikuti saat mengikuti majlis mafia sholawat yang mengakibatkan anak-anak tersebut penasaran dengan kehidupan teman sepergaulannya yang bebas, bisa hidup dijalanan, bisa kemanapun tanpan memiliki uang, mendapatkan pengalaman bisa ikut menumpang dalam kendaraan besar, serta seiring berjalannya waktu akhirnya enggan untuk pulang dan mengikuti pembelajaran di sekolah karena sudah asyik dengan kehidupan yang bebas bersama teman sepergaulan dan sebayanya. Serta banyaknya perubahan sikap yang sering terjadi akibat kurangnya anak bisa menanamkan dan menerapkan nilai-nilai karakter religius dalam kehidupan sehari-hari sehingga anak anak akan lebih mudah untuk terpengaruh dengan lingkungan pergaulan dan lingkungan sosial.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode Kualitatif dengan Jenis penelitian Deskriptif, dalam penelitian mendapatkan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini adalah siswi dan guru SMK Taruna Mandiri Ngasem Bojonegoro, Wali Murid, anak anak komunitas Mafia Sholawat dan anak-anak punk. Dalam proses analisa data yang dilakukan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk pengecekan keabsahan data menggunakan Triangulasi data.
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah memberikan wawasan bahwa pentingnya dukungan orangtua, guru dan lingkungan sekolah serta teman sebaya dalam penanaman pendidikan karakter religius, karena dengan pengawasan, pendampingan serta dukungan yang diberikan maka akan meminimalisir anak-anak tersebut terbawa dalam lingkungan pergaulan dan sosial yang akan merubah sikap serta perilakunya yang nantinya akan ikut terbawa berbagai kegiatan yang kerap dilakukan seperti menumpang truk besar, penggunaan obat apotik yang dioplos untuk kesenangan serta meminum miras dan kebebasan dalam pergaulan menyebabkan malas untuk pulang dan kembali bersekolah.