Abstract :
Saat ini angka kematian ibu di Indonesia masih cukup tinggi. Sebagian besar kematian itu terjadi selama masa nifas. Untuk mendeteksi tanda-tanda bahaya nifas dibutuhkan pengetahuan . Pengetahuan yang baik tentang tanda-tanda bahaya nifas penting harus dimiliki ibu,menurut pengamatan yang dilakukan di desa Kersikan , Puskesmas Gondangwetan dan Dinkes Pasuruan masih tingginya angka kematian ibu dan bufas resti, untuk itu tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat pengetahuan
ibu tentang tanda-tanda bahaya nifas berdasarkan umur < 19 tahun dan ? 19 tahun.
Penelitian ini bersifat analitik dengan menggunakan analitis cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan secara probality yaitu simple random sampling . Sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang pemah melahirkan anak yang berkunjung di Polindes bulan Nopember 2006 sampai Desember 2006, jumlah sampel yang diambil 32 responden.
Variabel independennya adalah umur yang dibedakan umur < 19 tahun dan umur ? 19
tahun sedangkan variabel dependennya adalah pengetahuan ibu tentang tanda-tanda
bahaya nifas.
Instrumen menggunakan bentuk kuesioner , data disajikan dalam bentuk frekuensi distrubusi dan tabulasi silang dan kemudian dianalisis dengan uji Chi-Square.
Dari hasil uji Chi-Square dimana X2 hitung 6,4 > X2 tabel 3,84 ,HO ditolak dan Hl diterima yang artinya bahwa ada hubungan antara umur dan pengetahuan, sehingga
dapat disimpulkan bahwa umur mempengaruhi pengetahuan ibu terhadap tanda-tanda
bahaya nifas.
Semakin cukup usia tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang, sehingga dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang.
Selain itu pengetahuan dapat diperoleh dari pendidikan, paritas dan informasi baik
dari media masa dan dari tenaga kesehatan. Diharapkan dengan pengetahuan wus tentang tanda-tanda bahaya nifas dapat mencegah terjadinya komplikasi dan menurunkan AKI karena sedini mungkin bila terdapat tanda-tanda bahaya nifas akan cepat terdeteksi dan tertangani.