Abstract :
Penelitian ini fokus pada fenomena yang sedang berlangsung sejak 2010. Meme
adalah tren berlangsung yang terus berkembang bersamaan dengan berjalannya
waktu. Peneliti bertujuan untuk menemukan tipe tipe illocutionary act dari teks
berasal dari meme yang ditemukan dari salah satu situs terpopuler yang memiliki
meme buatan dalam jumlah yang sangat banyak. Peneliti juga bertujuan
menemukan modifikasi kekuatan illokusi yang disebabkan oleh konteks meme.
Penelitian linguistik berkaitan dengan meme perlu dilakukan karena ada sebagian
orang yang menganggap meme itu bersifat menyinggung sehingga peneliti ingin
membuktikan apakah hal tersebut benar demikian. Alasan lain adalah meme telah
menjadi bagian dari cara pengguna media sosial dalam berkomunkasi berkaitan
sebuah peristiwa. Peneliti menggunakan metode observasi non partisipan dalam
mengumpulkan data. Peneliti menggunakan metode padan dengan teknik pilah
sebagai pembeda reaksi dan kadar keterdengaran yang dirancang Sudaryanto dan
menerapkan teori illocutionary milik Searle untuk menganalisis data-data tersebut.
Dalam menyajikan hasil analisis, metode informal digunakan oleh peneliti. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa ada empat tipe yang ditemukan dalam meme
setelah proses analysis yang mendalam. Keempat tipe tersebut adalah ekspresif,
asertif, direktif dan komisif. Modifikasi kekuatan ilokusi yang ditemukan di meme
adalah peningkatan dan pelemahan. Berdasarkan penemuan tersebut, peneliti
menarik kesimpulan bahwa meme pada umumnya bersifat menyatakan perasaan
terhadap sebuah situasi yang ada dan kenyataan yang dilihat oleh pengguna.
Meme tidak bersifat membuat sesuatu menjadi kenyataan hanya dari
menggunakannya. Konteks budaya dari meme bisa digunakan untuk memodifikasi
kekuatan illokusi dan kebanyakan dari mereka berfungsi meningkatkan kekuatan
tersebut.