Abstract :
Rafael Alun Trisambodo, seorang pejabat Kemenkeu yang memiliki total harta
kekayaan sebesar Rp56 Miliar yang dianggap tidak sesuai dengan profilnya sebagai
eselon III. Harta kekayaan yang dimilikinya menjadi sorotan publik setelah kasus
penganiayaan yang melibatkan anaknya, yaitu Mario Dandy terungkap. KPK lalu
memanggil Rafael Alun Trisambodo untuk meminta klarifikasi terkait harta jumbo
kepunyaannya. KPK telah menerima Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara
Negara (LHKPN) milik Rafael dan KPK mendapati penambahan jumlah harta.
LHKPN 2021, Rafael tercatat memiliki harta sebanyak Rp56 Miliar yang terdiri
dari properti di sejumlah daerah, mobil, dan surat-surat berharga. KPK terus
menyelediki kasus ini untuk menemukan bukti-bukti hingga memutusakan Rafael
Alun Trisambodo menjadi tersangka. Rafael terbukti menerima gratifikasi lewat
perusahaan konsultan pajak. Berita kasus Rafael Alun Trisambodo menjadi
headline news di berbagai media online seperti CNN Indonenesia.com dan
Kompas.com. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana media online
CNN Indonesia.com dan Kompas.com mengkonstruksikan pemberitaan kasus
Rafael Alun Trisambodo dengan menggunakan analisis framing Robert Entman.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data
studi dokumentasi dan observasi. Hasil penelitian ini adalah framing dari CNN
Indonesia.com dan Kompas.com terhadap penanganan KPK pada kasus Rafael
Alun Trisambodo yang mengkonstrusikannya secara berbeda. CNN Indonesia.com
sangat membentuk image baik KPK dengan konsisten memberitakan setiap tahapan
demi tahapan yang diupayakan KPK dalam mengusut kasus Rafael Alun
Trisambodo. Kompas.com mengkonstruksikan pemberitaan penanganan KPK
terhadap kasus Rafael Alun Trisambodo secara garis besar dan tidak memuat
banyak isu-isu terkait di dalamnya.