Abstract :
Pengambilan giliran adalah sebuah cara dalam percakapan yang dapat disebut
sebagai perubahan posisi pada pembicara menjadi pendengar dan sebaliknya.
Strategi-strategi pengambilan giliran ditemukan dalam debat presiden America
kedua pada tahun 2020. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi
pengambilan giliran dan perangkat kuasa yang digunakan oleh para peserta
debat. Peneliti menggunakan teori Stenström mengenai strategi pengambilan
giliran dan teori Fairclough tentang perangkat kuasa. Terdapat tiga strategi
pengambilan giliran yang diperkenalkan oleh Stenström (1994) dan empat
perangkat kuasa dalam percakapan yang disebutkan oleh Fairclough (2001).
Desain penelitian ini adalah kualitatif. Metode observasi dan teknik mencatat
digunakan untuk mengumpulkan data penelitian. Dalam menganalisis data, teknik
analisis pada analisis wacana dan koding digunakan. Hasil penelitian ini
dijelaskan dan ditampilkan secara deskriptif dalam bentuk kata hingga kalimat.
Strategi pengambilan giliran adalah mengambil giliran, menahan giliran, dan
memberi giliran. Perangkat kuasa dalam percakapan adalah interupsi,
pemaksaan keterbukaan, pengontrolan topik, dan formulasi. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa strategi mengambil giliran sering digunakan oleh semua
peserta debat. Strategi interupsi dan kuasa interupsi biasa digunakan oleh
Donald Trump. Joe Biden dengan strategi memulai dan formulasi sebagai
kuasanya. Kristen Welker menggunakan strategi dorongan dan kuasa
pengendalian topik. Selain itu, jeda diam sebagai sub-strategi dari menahan
giliran, memancing, dan menyerah yang merupakan bagian dari strategi memberi
giliran tidak ditemukan pada sumber data. Untuk menunjukkan dominasinya,
para peserta cenderung menghindari jeda diam dan selalu berusaha untuk
berbicara. Selain itu, penelitian ini juga mengungkapkan bahwa Donald Trump
cenderung tidak sopan dibandingkan dengan Joe Biden dan Kristen Welker.