Abstract :
Remaja menjadi salah satu kalangan yang paling banyak dikaitkan dengan
perkembangan teknologi. Masa remaja menjadi masa dimana seseorang yang
sedang gencar gencarnya mencari jati diri mereka dan pengalaman mereka. Hal
ini juga mengakibatkan dimana banyak remaja dengan mudah mengikuti hal hal
yang dilakukan oleh orang lain seperti membentuk citra diri yang baik, mereka
ingin dikagumi, mereka ingin mendapatkan pengakuan oleh publik, dan mereka
ingin menunjukkan eksistensinya melalui berbagai pengalaman yang mereka
rasakan. Sama hal nya dengan siswa SMA Negeri 17 Batam yang memiliki akun
Instagram. Bagi sebagian siswa, tidak hanya menggunakan Instagram sebagai
media untuk berbagi informasi dan komunikasi, tetapi juga menjadikan Instagram
sebagai tempat untuk membagikan pengalaman serta tempat untuk berkeluh
kesah. Bahkan ada salah satu siswa yang memiliki 2 akun Instagram. Penelitian
ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, yang
didasarkan pada pengalaman subjektif atau fenomenologikal seseorang. penelitian
ini menggunakan metode kualitatif dengan menganalisa dan mendeskripsikan
bagaimana bentuk, pola, aktivitas komunikasi pada siswa SMA Negeri 17 Batam
penggunaan akun kedua (second account) Instagram, serta bagaimana front stage
dan back stage penggunaan akun kedua tersebut jika ditinjau dengan
menggunakan pendekatan fenomenologi dan analisis dramaturgi (sebagai teori).
Hasil dari penelitian ini berupa Pengalaman komunikasi, Bentuk dan Pola
komunikasi, Aktivitas komunikasi, dan front stage dan back stage pada pengguna
seccond account siswa SMA Negeri 17 Batam. Pentingnya untuk meningkatkan
komunikasi bagi setiap siswa yang menggunakan akun media sosial sebagai
bentuk apresiasi terhadap sesama pengguna dan agar tidak terjadinya
kesalahpahaman dalam berkomunikasi lewat akun media sosial terkhusus pada
Instagram. Penelitian lebih lanjut dapat diperlukan untuk memahami lebih dalam
lagi bagaimana pengalaman komunikasi, bentuk, pola, aktivitas, serta bagaimana
pengguna Instagram dapat membentuk sebuah fenomenologi dramaturgi.