Abstract :
Penelitian ini menganalisis penggunaan bahasa kiasan dalam puisi ?The Rime of
the Ancient Mariner? karya ST Coleridge dengan menerapkan teori Perrine yang
meliputi simile, metafora, personifikasi, apostrof, metonimi, ironi, simbol, alegori,
paradoks, berlebihan/hiperbola, meremehkan, dan sinekdoke. Penelitian ini
bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana bahasa kiasan tidak hanya
meningkatkan teks sastra tetapi juga menumbuhkan empati dan kesadaran
emosional kepada pembaca. Penelitian ini hanya menganalisis tiga bagian puisi,
yaitu bagian pembukaan pada bagian 1, klimaks pada bagian 4, dan anti-klimaks
pada bagian 7. Penelitian ini menganalisis total 53 contoh bahasa kiasan. Penelitian
ini menggunakan metodologi kualitatif karena data dalam penelitian ini bukan
bersifat non-numerik untuk mengetahui jenis bahasa kiasan dan alasan penggunaan
bahasa kiasan. Temuan mengungkapkan bahwa personifikasi adalah yang paling
sering digunakan, muncul sebanyak 14 kali, diikuti oleh simile dan simbol, yang
masing-masing memberikan kontribusi signifikan terhadap gambaran hidup dan
intensitas emosional puisi. Penggunaan personifikasi Coleridge, di mana unsur
unsur alam dan benda mati diberkahi dengan karakteristik manusia, memainkan
peran penting dalam menciptakan narasi yang mendalam dan dinamis. Selain itu,
analisis ini menyoroti alasan di balik penggunaan bahasa kiasan oleh Coleridge,
termasuk kesenangan imajinatif, menghadirkan gambaran tambahan, intensitas
emosional, dan kompas singkat. Kajian ini menunjukkan bahwa unsur figuratif
tersebut tidak hanya penting dalam menyampaikan tema puisi tentang rasa bersalah,
penebusan, dan hubungan manusia dengan alam, namun juga meningkatkan
keterlibatan dan empati pembaca. Dengan menjelaskan lapisan makna dan emosi
yang kompleks dalam ?The Rime of the Ancient Mariner,? penelitian ini menyoroti
pentingnya bahasa figuratif dalam analisis sastra dan implikasinya yang lebih luas
terhadap pemahaman dan apresiasi sastra. Penelitian ini menyimpulkan bahwa
penggunaan bahasa kiasan Coleridge yang ahli memperkaya narasi,
membangkitkan respons emosional yang mendalam, dan menumbuhkan apresiasi
yang lebih dalam terhadap kompleksitas tematik dan estetika puisi.