Abstract :
Mengoptimalkan proses produksi adalah aktivitas yang dilakukan oleh production
dalam meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan kualitas dari setiap produk yang
dihasilkan. Aktivitas ini dilakukan dengan mencegah terjadinya beberapa faktor,
salah satunya pemborosan pada setiap aliran prosesnya. Dampak dari pemboroan
yang terjadi pada aliran proses produksi berupa menurunnya kualitas produk yang
dikerjakan. PT Sanipak Indonesia merupakan perusahaan yang bergerak dalam
industri pembuatan plastik. Salah satunya plastik penyimpanan makanan,
perusahaan ini menggunakan sistem Make to Order. Produksi plastik penyimpanan
makanan di PT Sanipak Indonesia mengalami masalah dengan menurunnya kualitas
produk hingga 15% dari bulan sebelumnya. Hal ini menimbulkan banyaknya
produk yang cacat dan terbuang di dalam gudang penyimpanan, sehingga
pengoptimalan proses produksi tidak berjalan dengan lancar. Penumpukan produk
yang cacat akibat proses produksi yang telah dikerjakan menimbulkan kerugian
bagi perusahaan. Banyak produk yang tidak mencapai kualitas yang baik, faktor ini
juga terjadi akibat minimnya area penempatan produk yang telah diproses.
Dikarenakan production tidak mencapai target kualitas yang diinginkan, maka
dilakukannya perbaikan secara keseluruhan dari proses awal hingga akhir. Adanya
penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara mengurangi pemborosan
yang terjadi sehingga proses produksi dapat berjalan dengan optimal. Penelitian ini
mengguanakan metode analisis pada pendekatan lean manufacturing dengan value
stream mapping. Untuk menganalisis pemborosan penelitin ini menggunakan
fishbone diagram. Didapatkan hasil dari Inspeksi berkala yang dilakukan selama 6
hari yaitu terjadinya waste overproduction dengan tingkat pemborosan tertinggi
dengan bobot 51, 02%, dan yang paling rendah waste defect dengan bobot 48,98%.
Masalah yang terjadi ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya yaitu
melakukan Perbaikan waste defect dan waste overproduction dengan
pengkalibrasian mesin atau alat kerja secara rutin sesuai SOP, serta mengganti
mesin-mesin yang sudah tidak layak digunakan kembali, dan memperluas gudang
penyimpanan dengan memberikan label indikasi produk di setiap area
penyimpanan. Berdasarkan hasil pemetaan Future State Mapping yang dilakukan,
diperoleh nilai Process cycle efficiency sebesar 79,80% dari 68,37%. Hasil tersebut
didapatkan production mengalami peningkatan sebanyak 18,2% hal yang ini
membuat proses produksi dapat mengoptimalkan proses produksinya kembali,
sehinggal kualitas produk yang dihasilkan kembali meningkat.