Abstract :
Roasted rice drink is an alternative drink for those who can not afford coffee but
missing the unique taste it has. The original intention of creating a roasted rice drink is
to create a beverage which has sensory similarity to coffee, but affordable for all
groups of people. Aside from the economic perspective, roasted rice drink is also
meant to be an alternative for people with caffeine and acidity intolerance. Roasted
rice drink is originated from the Philippines, with the name of Poorman?s coffee. In
this study, black, brown, and white rice grains were roasted in an oven for 35, 45,
and 55 minutes. Black rice grains which are roasted for 55 minutes was found to have
the most similar sensory characteristics towards Arabica Toraja coffee beans.
However, GC-MS analysis which was conducted did not approve the result from the
sensory analysis. To assess the most compatible brewing method to brew the roasted
rice drink, the third sensory test was conducted, comparing hot brewed and cold-
brewed roasted rice drink. The result shows that in the 7-point hedonic scale both
treatments were significantly different in terms of taste and color. In terms of color,
the hot brewed roasted rice drink had a significantly higher score than the cold-brewed
one. In terms of taste, cold-brewed roasted rice drink had a significantly higher score
than the hot brewed one. / Minuman roasted rice adalah sebuah minuman alternatif bagi mereka yang tidak
dapat menjangkau kopi tetapi merindukan keunikan rasanya. Tujuan utama dari
terciptanya minuman roasted rice ini adalah untuk menciptakan sebuah minuman
yang mempunyai kemiripan dengan kopi dari segi sensoris, tetapi terjangkau bagi
segala kelompok orang. Selain dari sudut pandang ekonomi, minuman roasted rice
juga dimaksudkan sebagai alternatif bagi otang yang memiliki alergi akan kafein dan
juga kadar asam. Minuman roasted rice berasal dari Filipina, dengan nama
Poorman?s coffee. Beras hitam, cokelat, dan putih dipanggang dalam oven selama
35, 45, dan 55 menit. Beras hitam yang dipanggang selama 55 menit terpilih sebagai
perlakuan yang memiliki karakteristik sensoris yang paling mirip dengan kopi
Arabica Toraja. Namun, hasil dari analisis GC-MS tidak mendukung hasil dari
analisis sensory tersebut. Untuk mengetahui metode penyeduhan yang paling sesuai
untuk menyeduh minuman roasted rice, dilakukanlah analisis sensori yang ketiga.
Dalam analisis ini metode penyeduhan panas dan dingin dibandingkan. Hasil
menunjukkan bahwa, dalam 7-skala hedonik, kedua perlakuan berbeda signifikan
dalam segi rasa dan warna. Dalam segi warna minuman roasted rice yang diseduh
menggunakan metode panas memperoleh skor yang lebih tinggi secara signifikan
dari yang diseduh menggunakan metode dingin. Dalam segi rasa, minuman roasted
rice yang diseduh menggunakan metode dingin memperoleh skor yang lebih tinggi
secara signifikan dibanding yang diseduh menggunakan metode panas.