DETAIL DOCUMENT
Pengaruh sindroma pramenstruasi terhadap regulasi emosi Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan = The effect of pramenstrual syndrome on emotion regulation in Medical Faculty Students Of Pelita Harapan University
Total View This Week0
Institusion
Universitas Pelita Harapan
Author
Sugiarto, Aurellia Celesta
Subject
R Medicine (General) 
Datestamp
2021-11-26 03:54:18 
Abstract :
Premenstrual syndrome(PMS) is syndrome that occurs during premenstrual phase and affect 70-90% of productive women. Etiology of PMS is remain unknown and poorly diagnosed. Some of the studies said that PMS caused by level of progresteron during lutheal phase. PMS and PMDD are often associated with mood instability and poor emotional regulation. The aim of this study is to determine the emotional impact of PMS. This study is an observasional cross-sectional study. Data were collected using Premenstrual Symptoms Severity Test (PSST) and Difficulty in Emotion Regulation Scale (DERS) translated in Bahasa Indonesia in April-May 2018. Data were analyzed using ANOVA statistic test and Spearman correlation . Results from 89 samples shows that 71 persons (72,5%) did not experiencing PMS, 23 persons (23,5%) had PMS, and 4 persons (4,1%) had PMDD. ANOVA test shows that PMDD and non-PMS shows significant difference in emotional dysregulation (p<0,001). PMDD and PMS also showed significant difference in emotional dysregulation (p=0.017). Conclusion: severity of premenstrual syndrome has an effect that is directly proportional to the regulation of negative emotions / Sindroma pramenstruasi(PMS) merupakan suatu kumpulan gejala yang muncul pada masa pramenstruasi dan ditemukan pada 70-90% wanita dalam usia produktif. Etiologi dari PMS sendiri masih belum jelas dan tidak terdeteksi. Beberapa studi mengatakan bahwa PMS disebabkan oleh efek dari level progesteron pada fase luteal. PMS dan PMDD sering diasosiasikan dengan ketidakstabilan mood dan regulasi emosi. Penelitian ini dilakukan guna mengetahui dampak emosional yang ditimbulkan oleh sindroma pramenstruasi Penelitian ini dilakukan secara observasional dengan rancangan studi potong lintang. Pengambilan data menggunakan kuesioner Premenstrual Symptoms Severity Test (PSST) dan Difficulty in Emotion Regulation Scale (DERS) yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Pengambilan data dilaksanakan pada bulan April-Mei 2018. Data dianalisis menggunakan uji statistic ANOVA dan korelasi spearman. Dari 89 sampel yang didapatkan menunjukan, 71 orang(72,4%) tidak mengalami gejala pramenstruasi, 23 orang (23,5%) memiliki PMS, 4 orang (4,1%) menderita PMDD. Dalam uji ANOVA ditemukan bahwa pada grup PMDD dan grup tanpa gejala pramenstruasi memiliki perbedaan regulasi emosi yang signifikan(p<0,001). Pada grup PMDD dan PMS juga menunjukan perbedaan regulasi emosi yang signifikan(p=0,017). Kesimpulan: derajat keparahan sindroma pramenstruasi memiliki efek yang berbanding lurus dengan regulasi emosi negatif 
Institution Info

Universitas Pelita Harapan