Abstract :
Kebutuhan energi listrik nasional diprediksi meningkat setiap tahunnya mengikuti pertumbuhan ekonomi. Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh sektor industri dan rumah tangga. Pemerintah sejak 2014 menjalankan Proyek 35.000 MW (megawatt) untuk mengantisipasi pertumbuhan penggunaan energi listrik. Dari proyek tersebut 48% dibangkitkan oleh Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batubara.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor yang berpengaruh serta nilai efisiensi pada besaran beban pembangkit batubara. Menjaga stabilitas suplai tenaga listrik dibutuhkan operasi dan perawatan yang baik. analisis konsumsi bahan bakar termasuk salah satu indikatornya. Untuk mengetahui hal tersebut parameter yang digunakan adalah nilai kalori (kkal/kg), konsumsi batubara (ton/jam) dan daya yang dibangkitkan (mw). Termasuk didalamnya mencampur jenis batubara yang digunakan untuk menekan biaya produksi dan juga meningkatkan efisiensi.Konsumsi batubara spesifik PLTU Paiton unit 6 tertinggi pada beban netto 450 MW kemudian terus menurun hingga ke posisi terendah pada beban netto 610 MW. Campuran batubara menggunakan berau coal dan kideco jaya agung. Rasio campuran batubara 2 berau : 3 kideco memiliki efisiensi tertinggi 32.2 % pada beban bruto 638 MW, sedangkan rasio 1 berau : 4 kideco pada beban yang sama hanya 31.8%. Dan efisiensi terendah senilai 28.7% terdapat pada beban netto 450 MW dengan rasio 2 berau : 2 kideco, sedangkan rasio 1 berau : 3 kideco pada beban yang sama sebesar 28.8%.