Abstract :
Di dalam setiap menjalankan usaha, adakalanya perusahaan mengalami kendala dalam hal menentukan besarnya pesanan persediaan bahan baku yang akan dipesan dan berapa besarnya kapasitas yang akan di produksi. Hal tersebut terjadi karena pihak perusahaan dalam melakukan pengendalian persediaan dan perencanaan kapasitas produksi masih berdasarkan metode manual dengan mengandalkan peramalan penjualan saja. Pandangan bahwa kehidupan hari esok harus lebih baik dari hari ini, merupakan pandangan yang memberi dorongan pemikiran ke arah produktivitas. Produktivitas dapat di ukur dengan membandingkan antara output dan input, output tersebut adalah kapasitas produksi dan input tersebut salah satunya adalah persediaan bahan baku. Dalam penelitian ini jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah penelitian survey, dengan menggunakan teknik analisis data statistic deskriptif dan menggunakan data primer dan data sekunder sebagai sumber data. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi dan dokumentasi. Kemudian dilakukan penyelesaian dengan metode Economic Order Quantity dan Break Even Point. Hasil penelitian menujukkan bahwa Pembelian bahan baku untuk proses produksi yang optimal sebesar 287 papan kayu. Jadi dengan besar pembelian 287 dalam 1 periode perusahaan dapat meminimumkan frekuensi pemesanan sebanyak 2 kali dalam 1 periode yang sebelumnya pihak perusahaan frekuensi pemesanannya sebanyak 4 kali dengan rata-rata 136 papan kayu setiap kali pesan. Total biaya persediaan bahan baku menurut metode EOQ (Economic Order Quantity) Rp. 892.589,-dan total persediaan menurut metode perusahaan Rp 1.252.904,-. Sedangkan perencanaan kapasitas produksi papan tahu menurut metode Breal Even Point sebanyak 138 papan kayu/3 bulan dan perencanaan kapasitas menurut metode perusahaan sebanyak 136 papan kayu / 3 bulan.