Abstract :
Di era globalisasi sekarang ini negara selalu berada di bawah ancaman yakni ancaman nonfisik salah satunya kenakalan remaja, dimana ancaman ini dapat mengancam pertahanan negara. Di Kabupaten Probolinggo bentuk kenakalan remaja mengenai pengedaran dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang naik sekitar 30%. Hal tersebut juga terjadi di salah satu desa yang ada di Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo yakni Desa Ambulu yang sering terjadi kasus penangkapan pengedaran dan penyalahgunaan obatobatan terlarang di setiap tahunnya, Oleh karena itu, perlu adanya suatu penanggulangan yang dilakukan oleh lembaga fungsional selaku komponen utama dalam sistem pertahanan negara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk implementasi Binter yang digunakan untuk penanggulangan penyalahgunaan pil dextro di kalangan remaja, selaku bentuk kenakalan remaja yang peneliti ambil. Serta faktor penghambat yang mempengaruhi penanggulangan. Penelitian ini menggunakan metode diskriptif kualitatif dimana hal tersebut agar dapat mendiskripsikan dan menganalisis secara ilmiah. Analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif menurut Miles Huberman. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dalam penanggulangn penyalahgunaan pil dextro di kalangan remaja yang fokus lokasi penelitiannya di Desa Ambulu sudah dilakukan sesuai dengan prosedur yang ada. Akan tetapi hal tersebut dihambat oleh pengaruh bentuk perilaku yang menghambat jalanknya Binter Komunikasi sosial yang lembaga fungsional lakukan yang terdiri dari faktor lingkungan dan kelompok sosial dari luar. Pada dasarnya suatu kegiatan yang melibatkan masyarakat, harus adanya suatu bentuk kerja sama antara lembaga-lembaga serta dari masyarakatnya sendiri.