Abstract :
Infertilitas di kalangan pria dapat disebabkan oleh gangguan fungsi sistem endokrin
karena beberapa faktor eksternal yaitu polusi, radikal bebas dan stres psikologis.
Stres psikologis dapat meningkatkan CRF yang secara langsung akan menurunkan
GnRH sehingga terjadi penurunan testosteron. Penurunan sekresi testosteron
berdampak pada proses pembentukan morfologi sperma dan terlibat dalam
patogenesis timbulnya teratozoospermia yaitu suatu kondisi yang ditandai dengan
adanya sperma dengan morfologi abnormal yang mempengaruhi fertilitas laki-laki.
Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh stres terhadap morfologi
spermatozoa mencit dengan metode Tail Suspension Test (TST) sebagai stressor
psikologis pada mencit. Penelitian ini menggunakan desain post-test only. Subjek
penelitian adalah 32 ekor mencit dengan berat badan 20-40gram dan usia 8-12
minggu. Metode pengambilan sampel adalah simple random sampling, mencit
dibagi menjadi 2 kelompok diaklimatisasi selama tujuh hari. Kelompok 1 sebagai
kelompok kontrol, dan kelompok 2 sebagai kelompok perlakuan diberi stressor
menggunakan metode TST yang diberikan 6 menit setiap hari selama 10 hari. Pada
hari ke 18 mencit diterminasi lalu diperiksa morfologi spermatozoa secara
mikroskopik. Hasil pemeriksaan morfologi spermatozoa menunjukkan bahwa
kelompok kontrol memiliki lebih banyak morfologi spermatozoa normal dibanding
kelompok perlakuan (Kontrol: 100% presentase normal. Perlakuan: 44% presentase
normal). Data dianalisis dengan uji statistik dan hasil uji Fisher’s exact adalah
terdapat pengaruh stres terhadap morfologi spermatozoa mencit dengan metode
TST (p<0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah stres psikologis dapat
mempengaruhi morfologi spermatozoa