DETAIL DOCUMENT
PERBEDAAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN SEFTRIAKSON DAN SEFOTAKSIM BERDASARKAN LAMA WAKTU BEBAS DEMAM PADA PENGOBATAN PASIEN DEMAM TIFOID ANAK DI RSUD DEPOK TAHUN 2018
Total View This Week0
Institusion
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta
Author
Wirojitho, -
Subject
RJ101 Child Health. Child health services 
Datestamp
2019-11-07 02:16:44 
Abstract :
Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi pada usus halus yang dapat diakibatkan karena bakteri Salmonella typhi melalui makanan dan minuman yang dikonsumsi. Prevalensi demam tifoid tertinggi pada anak kelompok usia 3?19 tahun. Seftriakson memiliki waktu paruh lebih lama (8 jam) daripada Sefotaksim (1,1 jam), menyebabkan Seftriakson lebih lama beredar di seluruh tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efektivitas penggunaan Seftriakson dan Sefotaksim berdasarkan lama waktu bebas demam pada pengobatan pasien demam tifoid anak di RSUD Depok tahun 2018. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional secara retrospektif melalui data rekam medik dengan teknik purposive sampling. Terdapat 31 pasien anak di RSUD Depok tahun 2018 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dengan 61.3% anak menggunakan antibiotik Seftriakson dan 38.7% anak menggunakan antibiotik Sefotaksim. Rerata lama waktu bebas demam penggunaan Seftriakson lebih singkat yaitu 11.59 jam dibandingkan dengan Sefotaksim 14.53 jam. Berdasarkan hasil uji T tidak berpasangan didapatkan hasil yang bermakna pada lama waktu bebas demam antara Seftriakson dan Sefotaksim pada pasien demam tifoid anak di RSUD Depok tahun 2018 (p=0.038). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik Seftriakson pada demam tifoid anak lebih efektif dibandingkan dengan Sefotaksim berdasarkan lama waktu bebas demam. 
Institution Info

Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta