Abstract :
Pada tahap perkembangan memasuki masa dewasa individu
diharapkan bisa memenuhi salah satu tugas perkembangan yaitu menikah,
namun tidak semua wanita mampu memenuhi harapan masyarakat dan
masih melajang walaupun usia sudah melebihi batasan untuk menikah.
Wanita melajang di usia dewasa akhir sering kali menimbulkan perasaan
tidak nyaman, tertekan, tidak bahagia, stress dan tidak sehat secara emosi,
menjadi kurang percaya diri untuk tampil dalam masyarakat. Kondisi ini
diperparah lagi dengan adanya pola pikir masyarakat timur yang
mempersoalkan wanita melajang di usia dewasa akhir. Tidak semua wanita
melajang merasakan hal yang sama, masih ada wanita yang hampir
memasuki usia lanjut, hidup melajang, tetapi bisa bahagia dalam menjalani
hidupnya. Konsep kebahagiaan dalam area psikologi disebut sebagai
subjective well being. Wanita yang berpandangan positif terhadap status
lajangnya, tidak menyesali masa lalu dan mampu membentuk hubungan
akrab dengan orang lain adalah wanita melajang yang memiliki kualitas
subjective well being yang baik. Kebahagiaan yang dialami oleh wanita
dewasa akhir ini dirasakan berbeda dengan fenomena dan teori yang
mengatakan bahwa menikah adalah salah satu faktor yang membentuk
subjective well being. Peristiwa tersebut membuat peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian mengenai subjective well being pada wanita dewasa
akhir yang hidup melajang. Tipe penelitian yang digunakan adalah studi
kasus dengan metode kualitatif dan semi structured interview sebagai
metode pengumpulan data.
Dari hasil penelitian, diperoleh bahwa gambaran subjective well
being terlihat dari penilaian positif tentang kehidupan melajang, adanya
hubungan positif dengan lingkungannya, serta memiliki job satisfactions.
Faktor-faktor yang mempengaruhi subjective well being terlihat dari adanya
dukungan dari orang-orang terdekat, peristiwa positif dalam hidup, kegiatan
religiusitas dan kondisi finansial yang memadai.