Abstract :
Pengolahan limbah biji salak menjadi bubuk biji salak dapat
meningkatkan diversifikasi penggunaan, memperpanjang umur simpan, dan meningkatkan nilai ekonomisnya. Biji salak memiliki kadar air 56,54%,kadar abu 1,85%, kadar protein 4,52%, kadar lemak 0,53%, dan kadar karbohidrat 36,56%. Bubuk biji salak dapat menggantikan kopi tetapi
memiliki kelebihan yaitu tidak memiliki kafein yang dapat menyebabkan penyakit darah tinggi, maag, dan jantung. Bubuk biji salak memiliki aroma, warna, dan rasa yang khas seperti kopi pada umumnya. Pengolahan bubuk biji salak dilakukan dengan cara penyangraian dengan suhu ±150°C dan
dilakukan dengan berbagai waktu penyangraian. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh waktu penyangraian biji salak pondoh terhadap sifat fisikokimia dan organoleptik serta mengetahui perlakuan yang terbaik.
Perlakuan waktu penyangraian memberikan pengaruh yang nyata (α=5%) terhadap karakteristik fisikokimia (kadar air, kelarutan dan warna) dan pengujian organoleptik (warna, rasa dan aroma). Waktu penyangraian bubuk biji salak yang terbaik adalah dengan waktu 60 menit, yang memiliki
kadar air 2,70%; kelarutan 22,54%; lightness
34,30; redness 0,21; blueness 0,58; chroma 0,61; hue 70,74; serta organoleptik kesukaan warna, rasa dan aroma dengan nilai 5,11; 4,74 dan 5,33, dari skor nilai 1 sampai dengan 7. Hasil uji proksimat diperoleh kadar air 2,70%; kadar abu 1,63%; kadar protein 3,86%; kadar lemak 0,20% dan kadar karbohidrat 91,61%.