Abstract :
Sediaan transdermal biasa diaplikasikan pada kulit untuk waktu yang
cukup lama yakni 7-14 hari. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
menguji efek hipersensitivitas sediaan transdermal ekstrak etanol
Pterocarpus indicus Willd pada kulit marmut. Sediaan transdermal terdiri
dari HPMC sebagai matriks, gliserol sebagai plasticizer, asam oleat
sebagai enhancer, tween 80 sebagai pengemulsi, dan alkohol sebagai
pelarut pembantu. Hewan coba yang digunakan adalah marmut jantan
dengan berat antara 250-550 g. Kelompok perlakuan terdiri dari 10 ekor
hewan. Sedangkan kelompok kontrol terdiri dari 5 ekor hewan. Hewan
coba dicukur bulunya menggunakan pencukur elektrik, kemudian dilukai
dengan pisau bedah steril dan diberi suspensi Staphylococcus aureus,
ditunggu 24 jam hingga terjadi infeksi, setelah diobservasi lalu didiamkan
lagi 48 jam, setelah itu dilakukan aplikasi sediaan transdermal. Kelompok
I sebagai kontrol negatif diberi matriks sediaan transdermal tanpa ekstrak
etanol daun angsana, kelompok II dan III diberi matriks sediaan
transdermal ekstrak etanol daun angsana dengan dosis 2,88 mg/cm2 dan
dosis 5,77 mg/cm2, dan kelompok IV diberi patch yang mengandung Na
Lauril Sulfat. Hasil yang diperoleh menunjukkan aplikasi matriks sediaan
transdermal daun angsana (Pterocarpus indicus Willd.) dalam dosis 2,88
mg/cm2 dan 5,77 mg/cm2 dengan enhancer asam oleat selama 14 hari,
tidak menyebabkan hipersensitivitas pada kulit marmut yang telah
disensitisasi.
Kata-kata kunci: daun Pterocarpus indicus Willd., hipersensitivitas,
transdermal, marmut.