Abstract :
Beluntas (Pluchea indica Less.) telah dikenal masyarakat Indonesia sebagai lalapan dan obat tradisional. Senyawa fitokimia dalam daun beluntas memiliki aktivitas antioksidan dan dapat diperoleh dengan cara ekstraksi menggunakan pelarut yang berbeda tingkat kepolarannya. Tingkat kepolaran pelarut mempengaruhi jenis dan kadar senyawa yang dapat larut (like dissolved like). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan jenis pelarut dan menentukan jenis pelarut yang tepat digunakan untuk mengetahui kemampuan menghambat oksidasi gula dengan metode DNS. Jenis pelarut yang digunakan untuk ekstraksi adalah air, metanol, etanol, etil asetat, dan heksana dengan lima kali pengulangan untuk setiap perlakuan. Parameter yang dilakukan yaitu kemampuan menghambat oksidasi gula dengan metode DNS. Parameter tersebut didukung dengan pengujian kadar air tepung daun beluntas, rendemen, screening fitokimia, total fenol, dan total flavonoid. Ekstrak etil asetat paling tinggi kemampuannya dalam menghambat oksidasi gula dengan metode DNS, yaitu sebesar 57,75 ± 2,61% dengan total fenol sebesar 17,9180 ± 1,6283 mg GAE/g tepung daun beluntas basis basah atau 55,6028 ± 4,5661 mg GAE/g ekstrak, total flavonoid sebesar 25,8352 ± 1,8308 mg CE/g tepung daun beluntas basis basah atau 80,2173 ± 5,6857 mg CE/g ekstrak, dan kandungan senyawa fitokimia pada ekstrak etil asetat meliputi alkaloid, fenolik, flavonoid, sterol, saponin, dan kardiak glikosida.