Abstract :
Parasetamol merupakan obat antipiretik yang paling sering digunakan saat
ini, namun parasetamol memiliki permasalahan pada efek samping yakni
dapat menyebabkan hepatotoksik. Untuk meminimalisir efek samping, pada
penelitian sebelumnya telah dilakukan sintesis senyawa O-
(isoleusil)parasetamol. Selanjutnya, untuk mengetahui aktivitas antipiretik
parasetamol, pada penelitian ini dilakukan pengujian aktivitas antipiretik
senyawa O-(isoleusil)parasetamol pada mencit (Mus musculus) dengan
induksi pepton. Pengujian aktivitas antipiretik dilakukan dengan cara
menginduksikan pepton ke mencit secara subcutan sehingga mencit menjadi
demam kemudian diinduksikan senyawa uji (intraperitoneal). Penurunan
suhu dilihat setiap 15 menit dan hasilnya akan diuji dengan perhitungan
statistik. Dosis yang digunakan dalam penelitian ini adalah 12,5; 25; 50;
100 dan 200 mg/kg BB. Dari hasil penelitian didapatkan nilai ED90, dimana
nilai ED90 O-(isoleusil)parasetamol adalah 126 mg/kg BB sedangkan nilai
ED90 parasetamol adalah 138mg/kg BB, dari hasil tersebut dapat
disimpulkan bahwa O-(isoleusil)parasetamol memiliki aktivitas antipiretik
yang lebih tinggi daripada parasetamol. Berdasarkan uji statistik Tukey
HSD menunjukkan bahwa pada dosis 50 mg/kg BB terdapat perbedaan
bermakna dimana aktivitas antipiretik O-(isoleusil)parasetamol lebih tinggi
dibandingkan parasetamol, namun pada dosis 12,5; 25; 100 dan 200 mg/kg
BB tidak memiliki perbedaan bermakna. Secara keseluruhan, berdasarkan
dari hasil uji statistik Tukey HSD dapat disimpulkan bahwa tidak ada
perbedaan bermakna antara aktivitas antipiretik O-(isoleusil)parasetamol
dengan aktivitas antipiretik parasetamol.