Abstract :
Bawang putih yang telah banyak diuji ternyata banyak sekali manfaat yang terkandung
didalamnya seperti senyawa alilicin, mengkonsumsi bawang putih di pagi hari ternyata
dapat menjadi obat alami untuk memperkuat kekebalan tubuh, yang dimana kondisi
pada saat ini pandemi sangat memerlukan sistem daya tahan tubuh yang kuat terhadap
serangan substansi asing yang terpapar ke tubuh kita. Substansi tersebut bisa berasal dari
luar maupun dalam tubuh sendiri. Kandungan allicin dalam bawang putih efektif
membunuh bakteri penyebab penyakit seperti pilek, radang tenggorokan, dan batuk.
Kandungan alilicin sulfide-nya juga dapat membantu melawan bakteri dalam tubuh.
tetapi kebanyakan masyarakat enggan untuk memakan bawang putih secara langsung
karena aroma bawang putih yang sangat tajam dan terasa getir jika dimakan. Untuk itu
dibuatlah alternatif manisan supaya masyarakat dapat mengkonsumsi bawang putih
secara langsung tanpakhawatir dengan aroma yang tajam dan terasa getir bila dimakan.
Tujuan penelitian untuk mengetahui sifat organoleptik terhadap olahan manisan bawang
putih, dan untuk mengetahui kadar air pada produk manisan bawang putih dengan
variasi proporsi penambahan jahe dan kayu manis. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan 6 perlakuan jahe
dan kayu manis (M1= 1,2 M2= 2,2 M3= 3,2 M4=1,3 M= 2,3 dan M6=3,3) tiga
pengulangan, dan 18 unit percobaan. Pengujian dilakukan dengan cara uji organoleptik
(rasa, aroma, tekstur, dan warna) dengan analisis ANOVA, sedangkan uji kimiawinya
yaitu kadar air bawang putih segar dan manisan bawang putih. Hasil yang diperoleh
penambahan jahe dan kayu manis dengan konsentrasi berbeda tidak berpengaruh
signifikan (?=5%) terhadap sifat organoleptik aroma, rasa, warna, dan tekstur.
Sedangkan pada kadar air manisan bawang putih kode M2 (konsentrasi jahe 2gram dan
kayu manis 2gram) sebesar 57,48% belum memenuh syarat mutu manisan basah
menurut SNI.
Kata kunci : bawang putih, manisan, jahe, kayu manisan, organoleptik.