Institusion
Universitas Ngudi Waluyo
Author
Andani, Rina
Oktianti, Dian
Minarsih, Tri
Subject
RS Pharmacy and materia medica
Datestamp
2021-10-26 02:08:26
Abstract :
Latar Belakang :Demam tifoid adalah penyakit infeksi sistemik yang disebabkan
oleh bakteri Salmonella thypi yang termasuk dalam family Enterobacteriaciae.
Bakteri ini menyerang saluran pencernaan yang ditandai dengan demam lebih dari
7 hari, gangguan pada saluran cerna dan gangguan kesadaran, masyarakat
mengenal penyakit ini dengan nama thypus. Penularan penyakit ini biasanya
melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi.
Metode :Penelitian ini menggunakan metode deskriptif non eksperimental yaitu
dengan cara pengamatan pada data yang sudah ada sebelumnya. Teknik sampling
yang digunakan adalah purposive sampling dan data rekam medik pasien yang
memenuhi kriteria.
Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari total 54 pasien, persentase
terbanyak pasien demam tifoid umur 1-5 tahun berdasarkan penggunaan obat
antibiotik, terapi obat tunggal terbanyak pertama adalah golongan sefalosporin
yaitu Cefotaxime (33,34%), kedua golongam Sefalosporin yaitu Ceftriaxone
(27,78%), ketiga golongan Chloramphenicol yaitu Chloramphenicol (18,51%),
keempat golongan Penicillin yaitu Ampicillin (12,12%), kelima golongan
sefalosporin yaitu Cefixime (3,70%) dan terapi antibiotik kombinasi golongan
sefalosporin yaitu Ceftriaxon dengan Cefixim (3,70%) dan kombinasi golongan
sefalosporin dan penicillin yaitu Ceftriaxon dengan Ampicillin (1,85%).
Kesimpulan : Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan antibiotik yang
sering digunakan pada pasien tifus di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Umum
Daerah Praya Tahun 2020 adalah antibiotik golongan sefalosporin sebesar 35
pasien (64,82%). Jenis antibiotik terbanyak adalah cefotaxim sebesar 18 pasien
(33,34%).
Kata Kunci : tifoid , anak, antibiotik, demam