Abstract :
Pengelolaan obat merupakan aspek penting yang berpengaruh
terhadap biaya operasional dalam meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian di
Puskesmas. Ketidakmampuan puskesmas dalam menyediakan pelayanan obat secara
optimal menunjukkan bahwa sistem pengelolaan obat belum efektif. Distribusi
merupakan tahapan dari manajemen pengelolaan obat untuk mengendalikan
ketersediaan obat sedangkan tahap penggunaan merupakan aspek penting dalam
meningkatkan ketepatan biaya, manfaat dan mutu pelayanan. Tujuan dari penelitian
ini untuk mengetahui efisiensi pengelolaan obat pada tahap distribusi dan penggunaan
di Puskesmas Boja 1.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan pendekatan
deskriptif. Pengumpulan data diambil secara retrospektif dengan menggunakan data
pelaporan periode tahun 2020. Pengolahan data dilakukan dengan menganalisis dan
membandingkan kesesuaian hasil dengan standar indikator Pudjaningsih (1996) dan
Depkes RI (2011).
Hasil: Hasil penelitian tahap distribusi dengan indikator turn over ratio diperoleh
hasil sebesar 3,2 kali, indikator ketersediaan obat 31,5 bulan, indikator obat
kadaluwarsa/rusak 2% dan indikator stock mati sebesar 32%. Pada tahap penggunaan,
indikator jumlah rata-rata item obat diperoleh hasil 3,69, persentase obat generik
62,06%, indikator persentase peresepan antibiotik 12,2% dan persentase peresepan
injeksi sebesar 4,07% .
Simpulan: Pengelolaan obat pada tahap distribusi dan penggunaan di Puskesmas
Boja 1 belum efisien dengan standar indikator turn over ratio, tingkat ketersediaan
obat, persentase obat kadaluwarsa, persentase stok mati, rerata item obat per lembar
resep, persentase obat generik, antibiotik dan persentase injeksi. Hasil perbandingan
indikator distribusi dan penggunaan pada penelitian menunjukkan ketidaksesuaian
dengan standar indikator.