Institusion
Universitas Ngudi Waluyo
Author
Boki, Maryeni Riwance
Sari, Kartika
Subject
RG Gynecology and obstetrics
Datestamp
2022-06-14 03:34:03
Abstract :
Latar Belakang: BBL yang lahir di PKM Tarus telah dilakukan IMD pada 1 jam pertama bayi lahir, akan tetapi rata-rata belum dilakukan pengukuran suhu tubuh BBL sebelum IMD, pengukuran suhu dilakukan 1 jam setelah IMD berhasil sehingga tidak ada gambaran suhu tubuh BBL sebelum dan sesudah IMD. Suhu tubuh BBL jika tidak dilakukan IMD dapat berpengaruh pada kesehatan BBL seperti kehilangan panas tubuh kemudian hipotermia, ketika BBL hipotermia akan menyebakan komplikasi yang sering terlihat yaitu hipoglikemia dan asidosis dalam tubuh BBL. Proses IMD yang dilakukan yaitu kontak kulit ibu dan bayi (scin to scin contact) sehingga secara otomatis suhu tubuh ibu dapat mentransfer ke kulit BBL secara langsung dan dapat mempertahankan suhu tubuh BBL melalui proses IMD. Tubuh ibu memiliki kemampuan untuk menyesuaikan suhunya dengan suhu yang dibutuhkan bayi (Thermoregulator Thermal Synchrony). Tujuan Penelitian: Mengetahui perbedaan suhu tubuh BBL sebelum inisiasi menyusu dini dan setelah inisiasi menyusu dini. Metode Penelitian:Metode kuantitatif jenis penelitian Quasi Experiment (Pre-Post Test Design) dengan pendekatan cross sectonal. Populasi 50 bayi, sampel yang di ambil 30 BBL dengan berat badan normal, alat ukur termometer digital, intrumen penelitian termometer digital dan lembar observasi, analisis data dengan SPSS.25. Hasil Penelitian: Hasil penelitian dari 30 sampel di dapatkan nilai mean suhu tubuh BBL sebelum di lakukan inisiasi menyusu dini (IMD) adalah 36,50C, nilai min=36,30C, nilai max= 36,90C SD=16,1209.Nilai Mean suhu tubuh BBL setelah di lakukan inisiasi menyusu dini (IMD) adalah 36,80C, nilai min=36,50C, nilai max=37,20C SD=20.8580 Kesimpulan: IMD dapat mempengaruhi suhu tubuh BBL, dengan adanya IMD maka suhu tubuh BBL dapat di pertahankan melalui kontak kulit ibu dan bayi.