Abstract :
Latar belakang : Ada perbedaan kriteria antara klasifikasi IMT WHO dengan IMT
Asia-Pasifik sebagai indikator gizi lebih. Perbedaan kriteria IMT dapat
menyebabkan kesalahan skrining prevalensi berbagai penyakit terkait gizi lebih.
Tujuan : Mengetahui validitas Indeks Massa Tubuh (IMT) WHO dan Asia-Pasifik
sebagai indikator gizi lebih pada wanita usia 19 ? 54 tahun di perusahaan garmen.
Metode : Desain penelitian menggunakan observasional deskriptif dengan
pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di Perusahaan Garmen pada bulan
Juni 2023 dengan sampel wanita usia 19 ? 54 tahun sebanyak 180 orang
menggunakan teknik simple random sampling. Alat pengumpulan data
menggunakan timbangan digital, stadiometer, dan BIA (Bioelectrical Impedance
Analyze). Analisis data menggunakan kurva ROC, nilai AUC, sensitivitas, dan
spesifisitas.
Hasil : Status gizi responden menurut IMT WHO kategori normal 69,5% dan gizi
lebih 30,5%. Status gizi menurut IMT Asia-Pasifik kategori normal 12,3% dan gizi
lebih 87,8%. Persen lemak tubuh normal 15,6% dan tinggi 84,4%. Nilai sensitivitas
IMT Asia-Pasifik lebih tinggi yaitu 99,3% dibandingkan dengan sensitivitas IMT
WHO 36,1%.
Kesimpulan : Klasifikasi Indeks Massa Tubuh (IMT) Asia-Pasifik memiliki nilai
sensitivitas lebih baik dibandingkan IMT WHO sebagai indikator gizi lebih pada
wanita usia 19 ? 54 tahun di perusahaan garmen.
Kata Kunci : Asia-Pasifik, IMT, Persen Lemak Tubuh, Wanita, WHO