Abstract :
Pengetahuan terkait obat wajib dimiliki masyarakat karena
sangat penting untuk menghindari kesalahan penggunaan obat. Program
DAGUSIBU diperlukan untuk mengurangi risiko mendapatkan obat palsu,
kadaluwarsa, dan tidak berkualitas. Penelitian ini bertujuan menganalisis
gambaran tingkat pengetahuan tentang DAGUSIBU Obat pada pasien di
Puskesmas Ungaran (Perkotaan) dan Puskesmas Leyangan (Pedesaan) di
Kabupaten Semarang.
Metode: Metode penelitian deskriptif kuantitatif dengan desain cross-sectional.
Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan teknik Nonprobability
Sampling, yang melibatkan 100 responden. Instrumen yang digunakan untuk
pengumpulan data adalah kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas
dengan menggunakan 20 pernyataan.
Hasil: Mayoritas responden perempuan, 32 dari Puskesmas Ungaran dan 40 dari
Puskesmas Leyangan. Rentang usia terbanyak di Puskesmas Ungaran adalah 26-
35 dan 36-45 tahun, masing-masing 16 responden, sementara di Puskesmas
Leyangan 36-45 tahun, dengan 15 responden. Mayoritas memiliki pendidikan
SMA/Sederajat, yaitu 26 responden di setiap puskesmas. Pengetahuan pasien
Puskesmas Ungaran baik untuk mendapatkan (78%), kurang untuk menggunakan
(55%), baik untuk menyimpan (83%), dan baik untuk membuang obat (78%).
Sedangkan pasien Puskesmas Leyangan memiliki pengetahuan cukup untuk
mendapatkan (74%), kurang untuk menggunakan (59%), cukup untuk menyimpan
(70%), dan cukup untuk membuang (68%). Hasil uji Mann Whitney menunjukkan
tidak ada perbedaan signifikan dengan nilai sig. 0,063.
Simpulan: Tingkat Pengetahuan pasien Puskesmas Ungaran tentang DAGUSIBU
dalam kategori cukup dengan rata-rata 73% dan pasien Puskesmas Leyangan
dalam kategori cukup dengan rata-rata 68% dan tidak terdapat perbedaan tingkat
pengetahuan antara kedua puskesmas.