Institusion
Universitas Ngudi Waluyo
Author
Ayu Merpati, Khinanti
diah pratiwi, neli
Subject
RS Pharmacy and materia medica
Datestamp
2024-03-19 03:26:00
Abstract :
Gagal ginjal kronis (GGK) adalah sindrom klinis sekunder
akibat perubahan fungsi yang definitif dan atau struktur ginjal dan ditandai oleh
ireversibilitas dan evolusi yang lambat dan progresif dengan penurunan fungsi
Glomerulus Filtration Rate (GFR) 30mg/g. Ketika GFR turun ke tingkat rendah,
ginjal tidak mampu mengeluarkan garam dan air dengan baik. Oleh karena itu,
retensi cairan ekstraseluler sering terjadi dan bermanifestasi sebagai edema paru
perifer atau asites. Terapi diuretik umumnya digunakan pada gagal ginjal kronik
untuk mengontrol ekspansi cairan ekstraseluler dan juga memiliki efek
antihipertensi.
Metode : Penelitian ini merupakan non-ekspresimental dengan rancangan
deskriptif retrospektif terhadap rekam medis pasien gagal ginjal kronik di instalasi
rawat inap RS Roemani Muhammadiyah Semarang periode 2017-2022.
Hasil : Dari 40 subjek penelitian perempuan (57,5%) dan laki-laki (42,5%)
dengan rentang usia terbanyak yaitu antara 61-70th, dan yang termasuk ke dalam
GGK stage 5 yaitu sebanyak 31 pasien sisanya tidak spesifik. Didapatkan
sebanyak 38 pasien menggunakan monoterapi furosemid dan sisanya kombinasi
(furosemid+spironolakton)
Kesimpulan : Terapi diuretik terbanyak di RS Roemani Muhammadiyah
Semarang adalah monoterapi furosemid sebesar 95%, diikuti terapi kombinasi
furosemid dan spironolakton sebesar 5%. Karena efektivitasnya dan keamanannya
penggunaan terapi kombinasi (furosemid + spironolakton) pada gagal ginjal
kronik paling efektif dibandingkan penggunaan monoterapi furosemid.