Abstract :
Prevalensi balita pendek yang dikumpulkan WHO tahun 2019
menyebutkan bahwa SouthEast Asia merupakan wilayah dengan prevalensi
stunting tertinggi (31,9%) di dunia setelah Afrika (33,1%). Berdasarkan hasil
Riskesdas tahun 2018, angka stunting di Indonesia sebesar 30,8%. Angka ini
masih tinggi dibandingkan dengan target Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional yaitu sebesar 19% di tahun 2024.
Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa hubungan stunting
dengan perkembangan pada anak usia prasekolah di Desa Branjang.
Metode: Desain penelitian ini adalah deskriptif korelasi dengan pendekatan cross
sectional. Populasi penelitian ini adalah anak usia 2-5 tahun berjumlah 190 orang.
Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dan jumlah
sampel sebanyak 65 responden. Alat ukur yang digunakan adalah formulir Denver
Developmental Screening Test II dan alat microtoise. Uji statistik yang digunakan
adalah uji chi-square.
Hasil: Hasil menunjukkan dari 65 responden di dominasi usia 2 tahun (35,4%),
berjenis kelamin perempuan (50,8%), terjadi stunting (32,3%), tidak stunting
(67,7%), perkembangan normal sebanyak 23 (35,4%) dan perkembangan suspect
sebanyak 21 (32,3%), analisis uji chi-square diperoleh p-value (0,341) > ? (0,05).
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara stunting dengan perkembangan
pada anak usia prasekolah di Desa Branjang.
Saran: Orang tua diharapkan dapat menambah wawasan terkait perkembangan
pada anak terutama anak yang mengalami stunting sehingga orang tua dapat
mengantisipasi adanya keterlambatan perkembangan pada anak.