Abstract :
Diabetes melitus adalah terjadi akibat tidak terkontrolnya
insulin
yang menyebabkan glukosa darah tinggi dan dapat menyebabkan komplikasi.
Salah
satu faktor yang menyebabkan tinggi dan rendahnya kadar gula darah adalah
aktivitas fisik. Masalah kurangnya aktivitas fisik jika tidak dilakukan akan
menimbulkan masalah fisik, dan risiko tinggi HbA1c.
Tujuan : Mengetahui hubungan aktivitas fisik dengan terkontrolnya kadar gula
darah pada lansia penderita diabetes melitus di puskesmas pegandon kabupaten
kendal.
Metode : Desain penelitian ini menggunakan survei deskriptif korelasional
dengan
pendekatan cross sectional. Populasi adalah lansia penderita diabetes melitus yang
berusia 60 tahun keatas di Puskesmas Pegandon Kabupaten Kendal. Teknik
sampling yang digunakan adalah accidental sampling dengan jumlah sampel
sebanyak 62 orang. Alat pengumpulan data dengan instrumen pengukuran kadar
gula darah dan kuesioner IPAQ. Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson.
Hasil : Mayoritas lansia di Puskesmas Pegandon Kabupaten Kendal merupakan
dengan kategori aktivitas fisik sedang, yaitu sebesar 44 orang (71,0%) memiliki
kadar gula darah yang terkontrol. Berdasarkan hasil analisis uji korelasi Pearson
didapatkan nilai (p=0,001<0,05 dan nilai r = -0,400).
Saran : Lansia dapat menyadari dampak glukosa darah dan faktor yang
mempengaruhi terjadinya diabetes melitus bagi kesehatan serta menyalurkan
kegiatannya pada hal yang positif di masyarakat.