Abstract :
stres merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
kadar gula darah pada pasien diabetes melitus. Stres dan diabetes melitus
memiliki hubungan yang sangat erat, dimana tingkat stres yang tinggi dapat
memicu kadar gula darah seseorang meningkat.
Metode : penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan
deskriptif korelatif. Populasi sebanyak 32 dengan jumlah sampel 32 responden
dengan menggunakan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan adalah
kuesioner Perceived Stres Scale (PSS-10). Analisa univirat menggunakan uji
statistik deskriptif. Analisa bivariate menggunakan uji chi square.
Hasil : Berdasarkan tingkat stres menunjukkan sebagian besar memiliki tingkat
stres dalam kategori berat yakni sebanyak 13 responden (40,6%) lebih banyak dari
pada responden yang memiliki tingkat stres sedang yakni sebanyak 12 responden
(28,1%). Sedangkan berdasarkan kadar gula darah tidak normal sebanyak 25
responden (78,2%) lebih banyak dari pada responden yang memiliki gula darah
normal yaitu sebanyak 7 responden (21,8%) Dari hasil uji statistik diperoleh
angka P Value Angka tersebut > 0,05 sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada
hubungan yang signifikan antara tingkat stres terhadap kadar glukosa darah pada
pasien diabetes melitus.
Kesimpulan : tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan
kadar gula darah pada pasien diabetes melitus.
Saran : diharapkan penelitian selanjutnya dapat mengembangkan penelitian
mengenai hubungan tingkat stres dengan kadar gula darah pada pasien diabetes
melitus.