Abstract :
Gangguan persepsi sensori adalah suatu keadaan yang terjadi dalam diri
seseorang yang mengalami perubahan bentuk dan jumlah rangsangan yang datang
dari luar sehingga mengakibatkan terjadinya gangguan persepsi sensori: halusinasi.
Salah satu gangguan persepsi sensori yaitu halusinasi pendengaran, dimana pasien
akan mengalami adanya perubahan pada persepsi dan sering mendengar suara
bisikan palsu atau tidak nyata dan tidak ada wujudnya. Salah satu terapi modalitas
yang dapat diterapkan dalam perawatan kesehatan mental yang terbukti efektif
adalah terapi dengan mendengarkan ayat suci Al-Quran. Tujuan dari penulisan
Karya Tulis Ilmiah ini untuk menggambarkan pengelolaan gangguan persepsi
sensori: halusinasi pendengaran dengan teknik murottal.
Jenis penelitian ini menggunakan metode studi deskriptif kuantitatif yang
menerapkan metode studi kasus. Pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan
asuhan keperawatan meliputi pengkajian diagnosis keperawatan, intervensi
keperawatan meliputi SP 1 sampai dengan SP 4, implementasi keperawatan selama
tujuh kali pertemuan atau tujuh hari, dan evaluasi keperawatan. Dari hasil studi
kasus dapat ditegakkan diagnosa keperawatan gangguan persepsi sensori:
halusinasi pendengaran dengan data yang mendukung saat dilakukan pengkajian,
seperti suara bisikan tidak jelas tapi nyata terdengar. Suara bisikan sering muncul
dan tidak terhitung. Setelah melakukan Implementasi sesuai dengan intervensi yang
telah di susun meliputi SP 1 cara menghardik halusinasi, SP 2 dengan 6 benar
minum obat, SP 3 kontrol halusinasi dengan bercakap-cakap dan SP 4 kontrol
halusinasi dengan melakukan kegiatan yang disukai atau kegiatan positif.
Didapatkan hasil pada hari ketujuh, Selasa, 11 Juni 2024 diperoleh data subyektif
pasien mengatakan perasaannya baik, jika mendengar suara aneh itu klien
mempraktekan cara menghardik dan ketika mendengar suarasuara yang tidak
berwujud pasien akan melafalkan kalimat Bismillahir rohmaanirrohiim dan ar
Universitas Ngudi Waluyox
rohmaan secara mandiri. Bagi perawat dirumah sakit jiwa agar dapat meningkatkan
pendidikan kesehatan pada keluarga dalam menangani kasus halusinasi
pendengaran dengan berbagai metode terapi contohnya teknik murottal setelah
keluar dari rumah sakit jiwa.