Abstract :
Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) merupakan kelainan di
kelenjar prostat berupa kelainan histologis dengan mengacu pada proliferasi sel
prostat itu sendiri. Hasil dari proliferasi ini dapat mengakibatkan penumpukan sel
sehingga dapat menyebabkan pembesaran pada volume prostat. BPH mampu
tumbuh semakin besar seiring dengan bertambahnya usia dan paling sering
menyerang laki-laki. Prevalensi BPH di Indonesia pada tahun 2018 mencapai
45% pada individu yang berusia di atas 50 tahun, sementara pada tahun 2019
meningkat menjadi 56% pada usia rata-rata di atas tahun. Tujuan: penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengelolaan pada pasien post operasi BPH dengan
prosedur pembedahan TURP selama 3 hari dengan resiko infeksi untuk
mengurangi tingkat infeksi dan meningkatkan proses kesembuhan pasien.
Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif bentuk studi kasus untuk
mengeksplorasikan masalah asuhan keperawatan pada pasien prostat jinak (benign
prostatic hyperlasia). Pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan asuhan
keperawatan yang meliputi pengkajian diagnosa keperawatan, perencanaan,
implementasi, dan evaluasi. Hasil: hasil penelitian menunjukan pada pasien yang
diberikan pengelolaan resiko infeksi dengan perawatan luka pasca operasi TURP,
didapatkan hasil luka bersih, tidak ada tanda ? tanda kemerahan, tidak ada tanda ?
tanda bengkak, tidak ada tanda ? tanda peningkatan suhu, tidak ada tanda ? tanda
gangguan fungsi, namun didapatkan nyeri masih terasa dengan skala ringan.
Dengan begitu perawatan luka efektif dalam meningkatkan proses kesembuhan
pasien. Simpulan: pemberian perawatan luka pada pasien post operasi prosedur
pembedahan TURP terbilang efektif dalam menjaga dan mencegah timbulnya
infeksi pada luka insisi pembedahan.