Abstract :
Pengaruh Cara Pengeringan Terhadap Sifat Kimia dan Organoleptik Kulit
Buah Salak Bali Kering, Mochammad Rizky Isfahani, NIM B32191860, Tahun
2022, 63 halaman, Teknologi Pertanian, Politeknik Negeri Jember, Irene Ratri
Andia Sasmita, S.TP, MP (Pembimbing).
Bali merupakan salah satu provinsi yang memiliki berbagai hasil pertanian
yang terkenal di Indonesia, salah satunya adalah buah salak bali. Kulit buah salak
Bali merupakan limbah hasil pertanian yang jumlahnya cukup banyak hal ini
didukung dengan data yang berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2021
yang mengatakan bahwa jumlah produksi buah salak di kabupaten Karangasem
mencapai 21,7 ribu ton, dengan jumlah produksi sebesar ini kabupaten Karangasem
menduduki posisi kedua dari jumlah produski salak di provinsi Bali, namun
pemanfaatan limbah dari buah salak Bali ini masih belum maksimal padahal kulit
buah salak Bali ini memiliki manfaat yang baik bagi tubuh. Kulit buah salak bali
memiliki manfaat yang bagus untuk kesehatan karena memiliki antioksidan
sehingga dapat berpotensi digunakan sebagai minuman apabila proses
pengolahannya dilakukan secara benar. Salah satunya adalah dengan cara
pengeringan kulit buah salak Bali. Pengeringan kulit buah salak Bali pada
penelitian ini meggunakan menggunakkan 2 cara, yang pertama menggunakkan
sinar matahari selama 1 hari dan menggunakan oven pada suhu 60oC selama 90
menit.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui anktivitas antioksidan, kadar air,
kadar abu, dan pH serta organoleptik dari minuman kulit buah salak Bali
berdasarkan cara pengeringannya. Analisis data yang dilakukan pada penelitian ini
menggunakkan Analisis sidik ragam atau nalysis of variance (ANOVA)
menggunakan minitab dilanjutkan dengan uji BNT 5% .
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kulit buah salak Bali kering dengan
cara pengeringan menggunakkan sinar matahari dan oven memberikan pengaruh
yang nyata terhadap sifat kimia (Kadar Air, Aktivitas Antioksidan dan PH)
sedangkan pada sifat kimia (Kadar Abu) memberikan pengaruh yang tidak nyata.
Selanjutnya pada pengujian organoleptik diperoleh hasil bahwa kulit buah salak
Bali dengan cara pengeringan menggunakkan sinar matahari dan oven memberikan
pengaruh yang nyata pada uji hedonik dengan parameter rasa tetapi untuk parameter
warna dan aroma, tidak memberikan pengaruh yang nyata, lalu pada pengujian uji
mutu hedonik didapatkan hasil pada parameter warna, aroma dan rasa memberikan
pengaruh yang nyata.