Abstract :
?Penerapan Metode FMEA dan SQC Produksi Sarden Kemasan Kaleng 155
Gram pada Proses Sterilisasi di PT. SMS Banyuwangi?, Firman Hadi Ibrahim,
NIM B41180133, Tahun 2022, 66 hlm., Teknologi Pertanian, Politeknik Negeri
Jember, Ir. Didiek Hermanuadi, M.T (Dosen Pembimbing).
Dunia industri yang terjadi saat ini persaingan barang dan jasa sangat ketat di
Indonesia, terutama persaingan pada industri barang atau jasa yang sejenis, untuk
itu setiap perusahaan dituntut untuk memberikan produk yang berkualitas agar bisa
bersaing dan mendapatkan kepercayaan dari konsumen.
Menanggapi hal ini PT. SMS Banyuwangi selalu berupaya untuk memberikan
dan menjaga kualitas produk sarden, akan tetapi data di lapangan menunjukkan
masih ditemukan defect pada produk sarden yang menyebabkan produk tidak layak
dikonsumsi dan tidak bisa dipasarkan ke konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk
mengatasi permasalahan PT. SMS Banyuwangi seperti terjadinya kecacatan produk
pada produksi pengalenga ikan terutama pada proses sterilisasi.
Metode penelitian diantaranya adalah persiapan penelitian (wawancara,
observasi, dan study literatur) identifikasi masalah, pengambilan data dan analisis
data. Data perusahaan pada bulan Agustus sampai September 2021 untuk sarden
kemasan kaleng 155 gram yang paling banyak mengalami cacat terjadi pada proses
sterilisasi, dari total produksi 295.135 kaleng, cacat yang disebabkan pada proses
sterilisasi tersebut mencapai 2.755 kaleng (1%), tentunya angka ini jauh lebih tinggi
dibandingkan dengan cacat tertinggi kedua yaitu pada proses seamer yang hanya
mencapai angka kecacatan sebesar 92 kaleng (0,03%). Oleh karena itu, penelitian
ini berfokus pada peningkatan kualitas produksi sarden pada proses sterilisasi dan
menekan tingkat kecacatan produk yang dihasilkan selama proses tersebut.
Hasil analisis tabel perhitungan nilai Risk Priority Number (RPN)
mendapatkan nilai RPN tertinggi yaitu modus kegagalan ?Air dan angin masuk
tidak seimbang pada proses pendinginan? memiliki nilai RPN tertinggi yaitu 125,
kemudian modus kegagalan ?Bahan baku tidak memenuhi standar? memiliki nilai
x
RPN tertinggi kedua yaitu 70. Rekomendasi perbaikan untuk modus kegagalan ?Air
dan angin masuk tidak seimbang pada proses pendinginan? adalah memeriksa
komponen mesin sebelum digunakan, mesin harus sudah dikalibrasi, memberikan
pengarahan kepada operator sebelum proses produksi. Sedangkan rekomendasi
perbaikan untuk modus kegagalan ?proses exhausting ke seamer terlalu lama? adalah
monitoring waktu pada saat proses penirisan ke proses seamer, suhu media sesuai
dengan standar perusahaan, memeriksa mesin seamer sebelum digunakan agar tidak
menghambat proses penutupan kaleng.