DETAIL DOCUMENT
Produksi Dan Pemasaran Samosa Ikan Bandeng (Samba)
Total View This Week0
Institusion
Politeknik Negeri Jember
Author
Herwidya, Aurellia Fernanda Dwi
Subject
163 - Teknologi Pertanian 
Datestamp
2021-10-23 05:25:04 
Abstract :
Samosa merupakan makanan berbentuk segitiga yang digoreng berasal dari daerah Timur Tengah. Samosa berisi potongan sayuran yang dibumbui berbentuk seperti pasta semi padat atau ragout. Samosa ikan Bandeng yang dikenal dengan sebutan SAMBA merupakan modifikasi samosa dengan bahan isian daging ikan bandeng. SAMBA ini diharapkan menjadi salah satu komoditas unggulan Kabupaten Sidoarjo. Produk SAMBA dijual dalam kondisi beku, mempunyai citarasa khas yaitu gurih dan umur simpan yang panjang. Produk SAMBA diharapkan dapat diterima oleh konsumen dan mempunyai peluang pasar yang besar sebagai produk khas Sidoarjo. Proyek Usaha Mandiri (PUM) ini bertujuan untuk mengetahui optimasi proses produksi SAMBA yang disukai konsumen, kelayakan usaha SAMBA, dan model pemasaran yang tepat Metode yang digunakan diawali dengan survey pasar yang dilakukan di pasar perumahan, lotte mart dan toko frozen food Kabupaten Sidoarjo. Pra produksi dan produksi samosa ikan bandeng 15 kali selama 1 bulan. Proses pembuatan SAMBA terdiri dari persiapan bahan baku, pencucian, pengukusan ikan bandeng suhu 80? selama 30 menit dan wortel suhu 80? selama 20 menit, pengambilan daging ikan bandeng, memotong wortel berukuran dadu yang sangat kecil dan lembut, penumisan bahan isian, pengisian kulit lumpia, pengemasan sekunder menggunakan plastic PE serta pengemasan primer menggunakan plastik mika berbahan PET dan penyimpanan suhu -18? dalam mesin chest freezer yang dilengkapi display thermometer. Produk SAMBA beku layak dijadikan usaha, 15 kali produksi dengan kapasitas 223 kemasan menghasilkan keuntungan Rp. 573.831, dengan laju keuntungan 30,5%, B/C ratio 1,30, biaya variable/unit Rp. 8.230, BEP produksi 16 kemasan, BEP rupiah Rp.175.320,-. Metode pemasaran yang digunakan adalah pemasaran secara langsung dan pemasaran secara tidak langsung. Pemasaran viii secara tidak langsung (51%) lebih efektif dan menguntungkan dibandingkan pemasaran secara langsung (49%), 
Institution Info

Politeknik Negeri Jember