Abstract :
Penerapan metode eksplorasi-discovery dengan lingkungan penemuan terkontrol untuk meningkatkan pemahaman pada materi energi angin siswa kelas III SDN 365 Padang Cenrana berjalan dengan lancar. Hal tersebut meskipun mengalami kendala pada penerapannya pada siklus I, tetapi dengan adanya perbaikan maka hal tersebut dapat diperbaiki pada siklus II. Proses secara keseluruhan menggunakan metode eksplorasi-discovery dengan lingkungan penemuan terkontrol yang diupayakan secara metodologis menggunaan penelitian tindakan kelas. Dalam PTK tersebut diterapkan 4 langkah prosedural bersiklus yaitu terdiri dari dua siklus yaitu siklus I dan II: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi sehingga diperoleh hasil yang terukur dan terstandar berdasarkan KKM belajar yang telah disepakati bersama dalam kurikulum yang berlaku di SDN 365 Padang Cenrana pada mata pelajaran IPA. Metode eksplorasi-discovery dengan lingkungan penemuan terkontrol mampu meningkatkan pemahaman pada materi energi angin siswa kelas III SDN 365 Padang Cenrana. Pemahaman siswa pada materi energi angin dapat dikatakan meningkatkan signifikan. Hal tersebut dapat dilihat dari angka-angka hasil olah data yang dilakukan dalam penelitian ini. Bila dilihat peningkatan tersebut bersifat gradual, yaitu terus meningkat dan tidak pernah turun. Dapat kita lihat bahwa rata-rata pemahaman siswa pada materi energi angin yaitu 65,50 pada siklus I dengan ketuntasan belajar secara klasikal sebanyak 76%, 13 siswa tuntas dan 4 belum tuntas. Hasil dari perbaikan tersebut pada siklus II terjadi peningkatan pemahaman yaitu pemahaman siswa berubah yaitu meningkat menjadi rata-rata 80,35. Peningkatan tersebut membuat rata-rata siswa mencapai KKM individual. Jumlah siswa yang tuntas yaitu 16 orang, kurang 1 orang tuntas dari 17 siswa yang dilibatkan lagi dalam pelaksanaan tindakan pada siklus II. Secara prosentase tingkat ketuntasan klasikal sebesar 94%. Perbaikan tindakan yang menjadi kekurangan pada siklus I berhasil meningkatkan jumlah siswa tuntas dari 76% menjadi 94% artinya ada 18% peningkatan jumlah siswa. Dapat disimpulkan bahwa pada siklus II ini rata-rata pemahaman siswa meningkat telah berhasil menyentuh KKM yang dipersyaratkan. Siklus II tidak perlu dilanjutkan pada siklus III untuk melakukan perbaikan.