DETAIL DOCUMENT
ASUHAN KEBIDANAN BERKELANJUTAN (CONTINUITY OF CARE) DARI MASA HAMIL SAMPAI DENGAN MASA NIFAS PADA NY”DR“ DI BPM HJ YUMAMIK AMD KEB DESA WARU KULON KECAMATAN PUCUK KABUPATEN LAMONGAN
Total View This Week2
Institusion
Universitas Muhammadiyah Lamongan
Author
NIA, LAELATUL ROMADHONI
Subject
RT Nursing 
Datestamp
2020-05-05 08:33:48 
Abstract :
Latar Belakang Proses kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir merupakan suatu tahapan yang fisiologis namun dalam prosesnya terdapat kemungkinan suatu keadaan yang dapat mengancam jiwa ibu dan bayi bahkan dapat menyebabkan kematian. OIeh karena itu harus diwaspadai apabila terjadi hal-hal yang dapat membahayakan kesehatan ibu dan bayi, terutama pada ibu yang tidak mendapatkan asuhan dari tenaga kesehatan. Kehamilan merupakan masa dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin (Saifudin, 2006).Persalinan merupakanproses pemgeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir atau jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri) (Setyorini,2013). Masa nifas merupakan masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai hingga alat-alat kandungan kembali seperti prahamil(Bahiyatun, 2009). bayi baru lahir merupakan bayi (infant) dalam empat minggu pertama kehidupan (Williamson, 2013). Indikator kemampuan pelayanan kesehatan suatu negara menurut World Health Organization (WHO) bisa dilihat dari angka kematian ibu (AKI) selama masa prenatal, intranatal dan postnatal. Hal ini sesuai dengan visi yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui deklarasi Tujuan Pembangunan Millenium 2015 (Millennium Development Goals/MDGs). MDGs 2015 2 mempunyai delapan sasaran, diantaranya adalah menurunkan angka kematian anak dan meningkatkan kesehatan ibu. Menurut laporan WHO yang telah dipublikasikan pada tahun 2014 Angka Kematian Ibu (AKI) di dunia mencapai angka 289.000 jiwa. Dimana terbagi atas beberapa Negara, antara lain Amerika Serikat mencapai 9300 jiwa, Afrika Utara 179.000 jiwa dan Asia Tenggara 16.000 jiwa.Untuk AKI di negara-negara Asia Tenggara diantaranya Indonesia mencapai 214 per 100.000 kelahiran hidup, Filipina 170 per 100.000 kelahiran hidup, Vietnam 160 per 100.000 kelahiran hidup, Thailand 44 per 100.000 kelahiran hidup, Brunei 60 per 100.000 kelahiran hidup dan Malaysia 39 per 100.000 kelahiran hidup (WHO, 2014). Berdasarkan data diatas Jumlah AKI mengalami penurunan jika dilihat dari Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 AKI di Indonesia mencapai 359 per 100.000 kelahiran hidup. Akan tetapi angka ini belum mencapai target MDGs 2015 yaitu 102 per 100.000 kelahiran hidup. Masih tingginya AKI sangat memprihatinkan, karena faktanya AKI di Indonesia tertinggi di kawasan Asia Tenggara dan angka tersebut jauh dari target MDGs Indonesia pada tahun 2015 yaitu, 102 per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan angka Kematian Bayi (AKB) pada tahun 2012 sebesar 32 per 1000 kelahiran hidup menurun dari 34 per 1000 kelahiran hidup di tahun 2007 (Kemenkes RI, 2014).AKI dan AKB tersebut belum memenuhi target MDGs. AKI yang cenderung meningkat memerlukan upaya yang sinergis dan terpadu untuk mempercepat penurunannya, khususnya dalam mencapai target Millenium Development Goals (MDGs) sehingga diperlukan kerja keras untuk mencapai target tersebut. 3 Pada tahun 2013, upaya kesehatan masyarakat di Indonesia khususnya kesehatan ibu dan anak dapat dilihat dari data nasional bahwa cakupan kunjungan pertama (K1) pada ibu hamil mengalami penurunan dari 96,84% pada tahun 2012 menjadi 95,25% pada tahun 2013, dan cakupan kunjungan ke-4 (K4) juga mengalami penurunan dari 90,18 % pada tahun 2012 menjadi 86,85% pada tahun 2013. Cakupan pertolongan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (PN) mencapai 90,88% dimana angka ini telah memenuhi target Rencana Strategi (Renstra) Kemenkes tahun 2013 yakni sebesar 89%. Cakupan kunjungan nifas ke-3 (KF3) mengalami peningkatan dari 85,16% pada tahun 2012 menjadi 86,64% pada tahun 2013. Capaian kunjungan neonatal (KN) lengkap secara nasional mengalami penurunan dibandingkan tahun 2012,yaitu dari 87,79% menjadi 87,23% pada tahun 2013. Cakupan peserta keluarga berencana (KB) aktif mengalami peningkatan dari 76,39% pada tahun 2012 menjadi 76, 73% pada tahun 2013 sedangkan cakupan KB baru mengalami penurunan dari 20,01 pada tahun 2012 menjadi 18,49% pada tahun 2013. (Kemenkes RI, 2014). Penurunan cakupan K1 dan K4 yang diikuti dengan kenaikan peserta KB aktif menandakan keberhasilan program KB di Indonesia. Hal ini dapat memberikan konstribusi dalam penurunan AKI dan AKB di Indonesia. Pada tahun 2012 di Provinsi Jawa Timur, cakupan K1 pada ibu hamil mencapai 92,14% dari target pencapaian 99%. Cakupan K4 mencapai 84,38% dari target pencapaian 92%. Cakupan PN mencapai 89,14% dari target pencapaian 94%. Cakupan KF3 mencapai 87,49% dari target pencapaian 95%. Cakupan KN Lengkap mencapai 94,66% dari target pencapaian 95%. Cakupan peserta KB aktif 4 mencapai 71,02% dari target pencapaian sebanyak 69%. Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani 83,15% dari target pencapaian 80% (Dinkes Provinsi Jatim, 2013). Pada tahun 2012 di Kabupaten Lamongan, cakupan K1 pada ibu hamil mencapai 108,57%. Cakupan K4 mencapai 101,55%. Cakupan PN mencapai 101,41%. Cakupan KF3 mencapai 100,8%. Cakupan (KN) mencapai 1 
Institution Info

Universitas Muhammadiyah Lamongan