Institusion
Universitas Aisyiyah Yogyakarta
Author
Rofiq Fakhrur Razi, 1711304098
Yuyun Nailufar, S.Si., M.Biomed
Yeni Rahmawati, S.Si., M.Sc
Subject
RZ Other systems of medicine
Datestamp
2023-07-21 23:07:00
Abstract :
Metanil Yellow merupakan bahan pewarana sintetik berbentuk serbuk, berwarna
kuning kecoklatan, bersifat larut air dan alkohol, agak larut dalam enzen dan eter,
serta sedikit larut dalam aseton. Pewarna ini umumnya digunakan sebagai
pewarna pada tekstil, kertas, tinta, plastik, kulit, dan cat, serta sebagai indikator
asam-basa di laboratorium. Namun pada prakteknya, di Indonesia pewarna ini
sering disalahgunakan untuk mewarnai berbagai jenis pangan antara lain kerupuk,
mie, tahu, dan jajanan yang berwarna kuning, seperti gorengan. Berdasarkan
struktur kimianya, metanil yellow dan beberapa pewarna sintetik dikategorikan
dalam golongan azo. Namun, metanil yellow termasuk pewarna golongan azo
yang telah dilarang digunakan pada pangan. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh pemberian Metanil Yellow dosis bertingkat terhadap
gambaran histopatologi ginjal tikus. Penelitian ini mengunakan metode telaah
literature review yang dilakukan dari beberapa sumber data antara lain Google
scholar dan Pubmed dengan menggunakan kata kunci pola PICO. Berdasarkan
penelitian pada empat jurnal literature menunjukkan dosis metanil yellow atau
pewarna makanan yang diperoleh yaitu 0,5 mg/mL, 1 mg/mL, 10 mg/mL, 3
gr/mL, 25 mg/Kg, 50 mg/kg, 75 mg/Kg 100 mg/kg, 200 mg/kg. Berdasarkan hasil
penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin besar pemberian pewarna
makanan terutama metanil yellow atau pewarna lainnya semakin besar
kemungkinan mengalami kerusakan jaringan hispatologi pada ginjal. Pengaruh
pemberian metanil yellow dosis bertingkat terhadap gambaran histopatologi ginjal
tikus antara lain terjadinya inflamasi, degenerasi sel, nekrosis, serta berdampak
pada penurunan albumin dalam ginjal.