Abstract :
Karyawan milenial yang memiliki subjective well-being akan
menunjukkan rasa puas dan bahagia terhadap kejadian yang ada di lingkungan
kerja. Subjective well-being diartikan sebagai penilaian kesejahteraan subjektif
seorang individu untuk memandang pengalaman masa lalu. Individu yang
memiliki subjective well-being tinggi akan mampu mengenali dan mengakui
kebaikan yang terjadi pada setiap permasalahan yang dialami sehingga dapat
memunculkan perasaan positif ketika menyikapi permasalahan tersebut. Penelitian
ini bertujuan untuk melihat apakah gratitude training mampu meningkatkan
subjective well-being pada karyawan milenial. Pemilihan subjek menggunakan
purposive sampling dengan karakteristik yaitu karyawan milenial di Perusahaan X
yang lahir antara tahun 1982 hingga 2002 dan masuk ke dalam kategori subjective
well-being rendah hingga sedang. Metode penelitian yang digunakan adalah
metode kuasi eksperimen dengan skala sebagai alat pengumpulan data. Skala
yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala subjective well-being (SWLS
dan SPANE) dan menggunakan intervensi gratitude training. Analisis data yang
digunakan adalah teknik analisis data independent sample t-test dan paired sample
t-test. Analisis independent sample t-test menunjukkan nilai t adalah 19.625
dengan p yaitu 0.000 (p<0.05), nilai mean posttest kelompok eksperimen yaitu
76.60 dan nilai mean posttest kelompok kontrol yaitu 23.50, dengan demikian
subjective well-being kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok
kontrol. Analisis paired sample t-test menunjukkan nilai t adalah -10.218 dengan
p yaitu 0.000 (p<0.05), nilai mean pretest yaitu 51.10 dan mean posttest yaitu
76.60, dengan demikian subjective well-being pada kelompok eksperimen sesudah
diberi perlakuan lebih tinggi daripada sebelum diberi perlakuan. Temuan ini
memberikan bukti bahwa gratitude training mampu meningkatkan subjective
well-being pada karyawan milenial.