Abstract :
Pada periode Presiden Joko Widodo, pemerintah Indonesia mendorong pengolahan
nikel menjadi produk bernilai tambah, Pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan
strategis yang bertujuan tidak hanya mencegah eksploitasi sumber daya nikel oleh
pihak asing tetapi juga meningkatkan perekonomian nasional dan kesejahteraan
masyarakat. Namun, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam
mengembangkan industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV), seperti tingginya
ketergantungan pada impor kendaraan dan minimnya infrastruktur pendukung.
Penelitian ini bertujuan menganalisis kebijakan luar negeri Presiden Jokowi dalam
mendukung pengembangan industri otomotif ramah lingkungan melalui kerja sama
internasional. Dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini menggunakan Teori
Hijau sebagai kerangka analisis. Teori ini, menurut Hugh Dyer, memiliki dua
perspektif utama: ekosentris, yang mengutamakan keseimbangan lingkungan di
atas kepentingan manusia, dan antroposentris, yang memandang lingkungan
sebagai sumber daya sementara. Namun, Teori Hijau menolak pandangan
antroposentris, menekankan pentingnya aksi kolektif demi keberlanjutan
lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagai produsen nikel terbesar
dunia, Indonesia memiliki posisi strategis untuk mendukung industri EV global,
terutama melalui baterai berbasis nikel. Untuk mencapai visi keberlanjutan,
kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat sangat diperlukan.
Keberhasilan Indonesia dalam mengembangkan industri EV tidak hanya
meningkatkan daya saing nasional, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan
terhadap upaya global melawan perubahan iklim.
128 HI 2024