Institusion
Universitas Diponegoro
Author
Rahayu, Alfiana Listia
Tampoebolon, Baginda I. M
Mukodiningsih, Sri
Subject
Animal and Agricultural Sciences
Datestamp
2025-02-28 02:21:07
Abstract :
Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh perlakuan perbedaan bentuk
pakan (mash, wafer dan pellet) terhadap palatabilitas, konsumsi pakan,
pertambahan bobot badan harian dan efisiensi pakan kambing lokal. Penelitian
dilaksanakan pada bulan April - Juni 2021 di Padepokan Menda Kencana Seta,
Mrunten Wetan, Kalisidi, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.
Materi yang digunakan yaitu 15 ekor kambing lokal jantan dengan rata - rata
bobot awal seberat 21 ± 3,3 kg, konsentrat, hijauan jagung, multinutrien blok
(MnB), pakan komplit bentuk mash, wafer dan pellet. Konsentrat terdiri atas DDGS
(destillers dried grains with solubles), pollard, onggok, gaplek, soybean meal
(SBM), dedak padi, bungkil kopra, kulit kopi dan molasses. Bahan yang digunakan
untuk menyusun MnB meliputi jerami padi fermentasi, tepung daun pepaya,
molasses, garam dapur, tepung cangkang kerang, urea, air dan bentonit. Rancangan
percobaan yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3
perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan P1= pakan komplit bentuk mash + 150 g MnB,
P2 = pakan komplit bentuk wafer + 150 g MnB, P3 = pakan komplit bentuk pellet
+ 150 g MnB. Analisis yang digunakan pada parameter uji palatabilitas yaitu
analisis secara deskriptif, sedangkan 3 parameter yang lain yaitu konsumsi BK
pakan, PBBH dan efisiensi pakan menggunakan analisis ANCOVA (Analysis of
Covariance) dan jika hasil signifikan pada taraf 5% (p>0,05) dilanjutkan dengan
uji Duncan pada taraf 5%.
Hasil penelitian pada uji palatabilitas menunjukkan bahwa pakan bentuk
mash memiliki palatabilitas paling tinggi kemudian pakan bentuk pellet dan
terakhir pakan bentuk wafer. Perlakuan perbedaan bentuk pakan (mash, wafer dan
pellet) berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap konsumsi BK pakan dan PBBH
kambing lokal. Konsumsi BK pakan dan PBBH pada perlakuan P1 (mash) nyata
(p<0,05) lebih tinggi dibanding perlakuan P2 (wafer) dan P3 (pellet). Konsumsi
BK pakan dan PBBH kambing lokal perlakuan P3 (pellet) tidak berbeda nyata
dengan perlakuan P2 (wafer). Perlakuan perbedaan bentuk pakan tidak berpengaruh
nyata terhadap efisiensi pakan kambing lokal.
Simpulan yang diperoleh adalah palatabilitas pakan bentuk mash merupakan
yang tertinggi kemudian pakan bentuk pellet dan palatabilitas pakan terendah
adalah bentuk wafer. Perlakuan bentuk pakan mash menunjukkan tingkat konsumsi
BK pakan, PBBH dan efisiensi pakan kambing lokal yang paling tinggi.