Abstract :
Di Indonesia, hama ulat grayak menjadi hama pemakan daun kedelai paling penting
dibandingkan dengan hama daun lainnya, seperti ulat jengkal, ulat tongkol jagung dan
ulat penggulung daun. Pengendalian ulat grayak telah dilakukan dengan berbagai upaya
seperti penggunaan sex-pheromon maupun dengan pengendalian biologis menggunakan
Bacillus thuringencis (Bt) dan SlNPV (Spodoptera Litura Nuclear Polyhedrosis Virus).
dengan alternatif penggunaan insektisida tetap menonjol, bahkan cenderung dilakukan
secara tidak bijaksana. Akibatnya, di beberapa sentra produksi kedelai dilaporkan hama
ulat grayak menjadi resisten (Muchlish, 2008).
Percobaan faktor tunggal dengan empat macam perlakuan ditempatkan dalam
Rancangan Acak Lengkap (RAL) diulang lima kali. Seperti pada Perlakuan: A adalah
Urin sapi 100 cc + (1 Liter) air, B adalah Serbuk biji mimba ( sbm) 20 gr + (1 Liter) air
C adalah Campuran (100 cc A + 100 cc B) + Liter , dan D adalah Air (Kontrol)
Hasil pengamatan pada tiga perlakuan Spodoptera litura dengan pencelupan daun
kedelai yang direndam pada urin sapi dan serbuk biji mimba jumlah mortalitas larva
Spodoptera litura hampir sama pada hari ke 6 (enam), sedangkan pada perlakuan
campuran urin sapi dan serbuk biji mimba jumlah mortalitas larva spodoptera litura
paling tinggi yakni pada hari ke 4 (empat), kejadian ini disebabkan oleh bertambah
kuatnya toksitas akibat adanya percampuran senyawa serbuk biji mimba dan urin sapi