Abstract :
Stunting merupakan kondisi pendek pada balita berdasarkan hasil pengukuran
tinggi badan berdasarkan umur dengan nilai z-score di bawah -2 SD. Kondisi sosial
ekonomi merupakan salah satu akar masalah yang berkaitan erat dengan risiko
terjadinya stunting karena dapat berpengaruh terhadap kemampuan keluarga dalam
memenuhi ketersediaan pangan, akses pangan, dan asupan makanan yang bergizi.
Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan kesejahteraan keluarga,
ketahanan pangan, keragaman konsumsi pangan, dan kepemilikan ternak dengan
kejadian stunting pada baduta usia 6-23 bulan di wilayah kerja Puskesmas
Cigalontang Kabupaten Tasikmalaya tahun 2023. Penelitian ini merupakan
penelitian observasional analitik dengan desain kasus kontrol. Populasi kasus
adalah seluruh baduta stunting sebanyak 224 baduta. Populasi kontrol adalah
seluruh baduta tidak stunting sebanyak 902 baduta. Sampel pada penelitian ini
adalah 128 ibu baduta yang terdiri dari 64 ibu baduta stunting dan 64 ibu baduta
tidak stunting. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dengan alat
ukur kuesioner. Analisis data terdiri dari analisis univariat dan analisis bivariat
menggunakan uji Chi Square dengan (?) = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan
terdapat hubungan signifikan antara kesejahteraan keluarga (p value = 0,017, OR
= 2,891), ketahanan pangan (p value = 0,002, OR = 4,20), kepemilikan ternak (p
value = 0,034, OR = 2,28), dan keragaman konsumsi pangan (p value = 0,045, OR
= 2,255) dengan kejadian stunting. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada
keluarga yang memiliki baduta memulai untuk memelihara hewan ternak yang
dapat dijadikan sebagai sumber protein hewani baik berupa daging maupun telur
serta dapat meningkatkan pendapatan keluarga dan meningkatkan ketahanan
pangan.
Kata Kunci : kesejahteraan, ketahanan pangan, ternak, stunting
Kepustakaan : 53 (2012 ? 2022)