Abstract :
ABSTRAK
Nebu-sauyun seakan tidak dapat dipisahkan dengan semangat
kejuangan R.M. Sahid atau Pangeran Sambernyawa dengan laskarnya.
Selama kurun waktu 16 tahun (1740-1756) perjuangannya semangat nebusauyun
mampu menjadi perekat yang sangat kuat terhadap berbagai
unsur masyarakat untuk bersama-sama memerangi kedholiman yang
terjadi di negeri ini bertujuan untuk hidup bermartabat.
Practice-Based Research ini salah satu tujuannya menguatkan lokalitas
dengan mereinterpretasi kembali makna nebu-sauyun hingga ditemukan
kandungan nilai-nilai wigati. Nilai-nilai itu mewujud dalam bentuk
kesadaran kerumunan (inteligent-colective) yang tebanya meliputi
kesadaran berkehidupan bersama, saling menghargai, derajat yang sama,
dan kesetaraan.
Abstraksi nilai-nilai wigati tersebut dituangkan ke dalam karya tari
bergenre bedhaya dengan judul Bedhaya Senapaten yang diilhami oleh
perjuangan Sambernyawa dalam menembus benteng Vredeburg Kompeni
di Yogyakarta. Hasil penelitian berbasis pratik ini merupakan presentasi
yang berlandaskan tafsir atas karya tari ciptaan R.M. Sahid yang bergelar
K.G.P.A.A. Mangkunagara I, yang selama 150 tahun tidak lagi disajikan
dan hilang dari peradaban.
Kata kunci: nebu-sauyun, bedhaya, Bedhaya Senapaten.