Institusion
Universitas Muslim Indonesia
Author
Putri Ramadin, Realita Empaty
Subject
RA Public aspects of medicine
Datestamp
2025-11-28 01:58:42
Abstract :
Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) dan Human
Immunodeficiency Virus (HIV) tetap menjadi tantangan kesehatan global
yang berkelanjutan dan memengaruhi jutaan jiwa. Penyakit ini tidak hanya
menjadi masalah kesehatan, namun juga terkait dengan masalah agama,
ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat. HIV/AIDS telah menjadi masalah
kesehatan yang sangat penting karena virus-virus tersebut dapat menular
kepada orang lain melalui berbagai cara penularan.
Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitian Cross
sectional yang digunakan untuk mengetahui hubungan dimensi HBM
(Health Belief Model) dengan stigma pralansia terhadap ODHA. Populasi
dalam penelitian ini adalah pralansia (49-59 Tahun) yang datang berobat di
Puskesmas Kassi Kassi Kota Makassar sejumlah 4218 jiwa. Pengambilan
sampel pada penelitian ini menggunakan Non-Probability Sampling dengan
pendekatan Purposive Sampling dan setelah melakukan perhitungan
sampel menggunakan rumus lemeshow didapatkan hasil 75 responden
dengan minimal Pendidikan Diploma atau Sarjana. Metode pengumpulan
data diperoleh dengan obeservasi dan kuesioner yang bersifat tertutup
menggunakan skala likert. Analisis data dilakukan secara univariat dan
bivariat menggunakan uji chi square.
Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa tingkat pengetahuan
dengan stigma pralansia terhadap ODHA menunjukkan responden yang
memiliki pengetahuan baik cenderung ber-stigma positif, yaitu sebanyak 29
responden (85,3%) dan setelah dilakukan uji chi-square diperoleh hasil p-
value 0,062, artinya tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan
stigma. Selain itu, diketahui bahwa Perceived Susceptibility (Kerentanan)
dengan Stigma Pralansia terhadap ODHA menunjukkan responden yang
memiliki persepsi kerentanan baik cenderung ber-stigma positif, yaitu
sebanyak 48 responden (78,7%) dan setelah dilakukan uji chi-square
diperoleh hasil p-value 0,029, artinya ada hubungan antara persepsi
kerentanan dengan stigma.
Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa persepsi keseriusan
dengan stigma pralansia terhadap ODHA menunjukkan, responden yang
memiliki persepsi keseriusan baik cenderung ber-stigma positif, yaitu
ix
sebanyak 44 responden (74,6%) dan setelah dilakukan uji chi-square
diperoleh p-value 0,640 artinya tidak ada hubungan antara persepsi
keseriusan dengan stigma. Tak hanya itu, diketahui bahwa persepsi
keuntungan dengan stigma pralansia terhadap ODHA menunjukkan
responden yang memiliki persepsi keuntungan baik cenderung ber-stigma
positif, yaitu sebanyak 49 responden (75,4%) dan setelah dilakukan uji chi-
square diperoleh hasil p-value 0,306 artinya tidak ada hubungan antara
persepsi keuntungan dengan stigma.
Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa persepsi hambatan
dengan stigma pralansia terhadap ODHA menunjukkan responden yang
memiliki persepsi hambatan baik cenderung ber-stigma positif, yaitu
sebanyak 48 responden (77,4%) dan setelah dilakukan uji chi-square
diperoleh hasil p-value 0,081 artinya tidak ada hubungan antara persepsi
hambatan dengan stigma. Berikutnya, persepsi kepercayaan diri dengan
stigma pralansia terhadap ODHA menunjukkan responden yang memiliki
persepsi kepercayaan diri baik cenderung ber-stigma positif, yaitu
sebanyak 51 responden (78,5%) dan setelah dilakukan uji chi-square
diperoleh hasil p-value 0,010 artinya ada hubungan antara persepsi
kepercayaan diri dengan stigma.
Puskesmas disarankan menyusun program edukasi terpadu bagi
kelompok pralansia dengan pendekatan Health Belief Model (HBM), yang
mencakup pemahaman risiko, bahaya HIV, manfaat pencegahan, dan
hambatan sosial-informasi guna menurunkan stigma terhadap ODHIV.
Pralansia juga didorong lebih terbuka terhadap informasi kesehatan serta
aktif mengikuti posyandu lansia atau forum warga sebagai kanal edukasi.
Sementara itu, peneliti selanjutnya diharapkan memperdalam penerapan
HBM dalam konteks stigma HIV/AIDS, khususnya dengan mengeksplorasi
lebih luas hubungan antar variabel psikososial di berbagai kelompok rentan
untuk memperkaya kajian dalam ilmu kesehatan masyarakat.
Penelitian ini memiliki relevansi kuat dengan epidemiologi sosial dan
perilaku, karena stigma merupakan determinan sosial yang memengaruhi
penyebaran HIV, akses layanan, hingga kepatuhan terapi. Melalui
pendekatan Health Belief Model (HBM), penelitian ini menjelaskan
bagaimana persepsi pralansia—terhadap kerentanan, keseriusan, manfaat,
dan hambatan—berkontribusi pada pembentukan stigma terhadap ODHIV.
Pemahaman ini penting untuk mendukung upaya pencegahan, deteksi dini,
dan pengobatan HIV/AIDS secara lebih efektif.